Ilustrasi Robert Budi Hartono Resmi Jadi Pengendali Tunggal BCA (Sumber: Laman Resmi BCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan Robert Budi Hartono resmi menjadi pemegang saham pengendali terakhir perseroan setelah wafatnya Bambang Hartono. Perubahan tersebut menandai babak baru kepemimpinan di bank swasta terbesar di Indonesia.
Sebelumnya, Bambang Hartono merupakan pemegang saham pengendali PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), perusahaan yang menjadi pengendali terakhir emiten berkode BBCA. Setelah Bambang meninggal dunia, pengendalian PT DIA otomatis beralih sehingga Robert Budi Hartono menjadi pengendali tunggal BCA.
Meski terjadi perubahan pengendali, kepemilikan saham Robert Budi Hartono di PT DIA tidak berubah, yakni tetap sebesar 51 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Dengan perubahan ini, Robert kini memegang kendali atas BCA yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp776,63 triliun.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires, Robert Budi Hartono memiliki kekayaan mencapai US$15,7 miliar atau sekitar Rp283,5 triliun (kurs Rp18.058 per dolar AS). Sebagian besar kekayaannya berasal dari kepemilikan saham di BCA.
Profil Robert Budi HartonoRobert Budi Hartono lahir dengan nama Oei Hwie Tjhong. Ia merupakan putra kedua Oei Wie Gwan, pendiri perusahaan rokok Djarum yang menjadi cikal bakal kerajaan bisnis keluarga Hartono.
Perjalanan bisnis keluarga dimulai pada 1951 ketika Oei Wie Gwan mengakuisisi perusahaan rokok kecil bernama Djarum Gramophon dan mengubah namanya menjadi Djarum. Namun, pada 1963 pabrik Djarum mengalami kebakaran besar dan Oei Wie Gwan meninggal dunia.
Sejak saat itu, Robert Budi Hartono bersama kakaknya, Bambang Hartono, mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Di tangan keduanya, Djarum berkembang pesat menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.
Perusahaan mulai mengekspor produknya pada 1972, meluncurkan Djarum Filter pada 1975, dan memperkenalkan Djarum Super pada 1981 yang kemudian menjadi salah satu produk andalan perusahaan.
Robert Budi Hartono menikah dengan Widowati atau Giok Hartono dan dikaruniai tiga putra, yakni Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Ketiganya kini turut memegang peran penting dalam bisnis keluarga.
Victor Hartono menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) PT Djarum yang mengelola operasional inti perusahaan rokok. Martin Hartono memimpin GDP Venture sebagai CEO dan bertanggung jawab mengembangkan investasi Grup Djarum di sektor internet, media digital, serta perusahaan rintisan (startup).
Sementara itu, Armand Hartono menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur BCA dan menjadi salah satu generasi penerus yang berperan dalam pengembangan bisnis perbankan Grup Djarum.
Akuisisi BCA Setelah Krisis 1998
Keberhasilan Djarum menjadi fondasi keluarga Hartono untuk memperluas bisnis ke berbagai sektor. Momentum terbesar terjadi setelah krisis ekonomi Asia 1997-1998.
Saat itu, keluarga Hartono mengakuisisi saham BCA setelah keluarga Salim kehilangan kendali atas bank tersebut. Sejak diambil alih Grup Djarum, BCA tumbuh menjadi bank swasta terbesar di Indonesia dan menjadi penyumbang utama kekayaan keluarga Hartono.
Dalam sejarahnya, kepemilikan BCA telah berpindah tangan sebanyak tiga kali, yakni dari keluarga Salim, kemudian pemerintah Indonesia, hingga akhirnya berada di bawah kendali Grup Djarum.
Gurita Bisnis Grup Djarum
Selain BCA, Grup Djarum memiliki portofolio bisnis yang tersebar di berbagai sektor. Di bidang properti, grup ini mengembangkan sejumlah aset premium, termasuk Grand Indonesia di Jakarta. Pada sektor ritel dan konsumer, Grup Djarum memiliki PT Supra Boga Lestari Tbk, serta bisnis perkebunan kelapa sawit.
Di sektor elektronik, mereka mengembangkan Polytron yang telah memproduksi berbagai perangkat elektronik rumah tangga selama lebih dari tiga dekade. Pada 2025, Polytron juga memasuki industri kendaraan listrik dengan meluncurkan dua model mobil listrik.
Sementara di sektor digital, keluarga Hartono melalui GDP Ventures membangun ekosistem investasi teknologi, termasuk Blibli. Perusahaan induknya, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022 dalam salah satu penawaran umum perdana (IPO) terbesar saat itu dengan menghimpun dana sekitar US$510 juta.
Grup Djarum juga memiliki investasi pada PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk, PT Remala Abadi Tbk (DATA), serta baru-baru ini menjadi pengendali PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten yang bergerak di bidang bisnis digital.