Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

BPS: Neraca Dagang pada Juni 2026 Defisit Rp8 Triliun

SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 12:29 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS atau setara Rp8 triliun pada Juni 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena nilai impor pada Juni mencapai 25,91 miliar dolar AS, sementara nilai 25,46 miliar dolar AS.

Ateng merinci, nilai impor tumbuh 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas tercatat sebesar 4,56 miliar dolar AS atau melonjak 105,15 persen secara tahunan. Sementara impor nonmigas mencapai 21,35 miliar Dolar AS atau naik 25,05 persen dibandingkan Juni 2025.


"Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS. Defisit pada bulan Juni 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar 3,49 miliar dolar AS dengan komoditas utama penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers rilis data BPS pada Senin, 3 Agustus 2026.

Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia tercatat mencapai 25,46 miliar dolar AS atau naik 8,84 persen dibandingkan Juni 2025 (yoy). Kenaikan itu ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai 24,39 miliar dolar AS atau tumbuh 9,46 persen secara tahunan. 

Menurut Ateng, pertumbuhan ekspor terutama berasal dari meningkatnya pengiriman sejumlah komoditas nonmigas. Bahan bakar mineral (HS27) naik 49,67 persen, nikel dan barang daripadanya (HS75) melonjak 69,30 persen, sedangkan lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) meningkat 10,45 persen. Sementara ekspor migas tercatat sebesar 1,07 miliar dolar AS atau turun 3,78 persen.

Meski neraca perdagangan migas mengalami defisit, Indonesia masih mencatat surplus pada perdagangan nonmigas.

"Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus 3,04 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," tandasnya.

Di sisi lain, secara kumulatif pada periode Januari-Juni 2026 tercatat masih surplus 3,58 miliar dolar AS. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar 19,35 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih defisit 15,77 miliar dolar AS.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya