Berita

Representative Image (Foto: X)

Global

72 Migran Tewas dalam Eksodus Massal ke Ceuta Spanyol

SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 11:08 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pendataan terbaru dari otoritas Spanyol menunjukkan jumlah korban tewas dalam gelombang penyeberangan massal migran ke wilayah kantong Ceuta, Afrika Utara, terus bertambah. 

Hingga Senin, 3 Agustus 2026, sedikitnya 72 orang dilaporkan meninggal dunia setelah puluhan ribu migran nekat berenang dari Maroko menuju wilayah Spanyol dalam krisis migrasi terbesar yang pernah melanda kawasan tersebut.

"Angka terbaru yang kami miliki adalah 72," ungkap pejabat pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez Triano kepada wartawan saat menjawab pertanyaan mengenai jumlah korban tewas. 


Sebelumnya, otoritas melaporkan 67 korban meninggal.

Pemerintah memperkirakan sekitar 60 ribu migran sempat memasuki Ceuta dalam eksodus massal tersebut. Namun, sebagian besar telah kembali secara sukarela ke Maroko dalam kurun 48 jam. 

Pada Minggu, 2 Agustus 2026, situasi di Ceuta mulai berangsur normal meski aparat kepolisian dan militer Spanyol masih disiagakan di berbagai titik untuk mengantisipasi gelombang susulan.

Di sekitar pelabuhan Ceuta, pasukan Spanyol masih mengamankan sejumlah migran yang tertinggal. 

Sementara itu, tim penyelamat terus menyisir perairan di sekitar pagar perbatasan yang membentang hingga Laut Mediterania. 

Pengamanan juga diperketat dengan pemasangan penghalang terapung sepanjang 500 meter, sementara aparat Garda Sipil mengawal proses pemulangan migran menuju perbatasan Maroko.

Madrid menuding jaringan kriminal sebagai pihak yang memanfaatkan situasi dengan menyebarkan rumor bahwa putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol akan mempermudah migran memasuki negara itu. 

Sejumlah migran mengaku mendengar kabar bahwa perbatasan telah dibuka, sebelum informasi tersebut menyebar luas melalui media sosial dan memicu eksodus besar-besaran.

Krisis di Ceuta kini berkembang menjadi persoalan politik di tingkat Eropa. Sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa mendesak digelarnya pertemuan darurat untuk menyusun respons bersama guna mencegah penyeberangan ilegal berikutnya. 

Di saat yang sama, Italia memutuskan menangguhkan selama satu bulan penerapan Perjanjian Schengen dengan Spanyol.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya