Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOLJabar)

Publika

Pemimpin, Narasi dan Omon-omon

SENIN, 03 AGUSTUS 2026 | 03:48 WIB

NARASI menjadi bagian penting dari seorang pemimpin untuk  mengabarkan sesuatu persoalan hingga dipahami publik secara utuh.

Seorang pemimpin sangat perlu bernarasi panjang lebar untuk menjelaskan suatu persoalan sehingga masalah menjadi jernih  di hadapan warga masyarakat.

Namun tidak semua narasi harus disuarakan lewat suara pemimpin. Tak heran bila kini banyak pemimpin negara (baca: Presiden) menggunakan juru bicara (jubir) sebagai pengejawantahan suara dirinya kepada publik.


Sementara untuk di tingkat daerah, para kepala dinas tentu bisa menjadi bagian dari suara pemimpin kepada publik mengingat persoalan pada tingkat teknis, para kepala dinas lebih menguasai persoalan dan permasalahan.

Narasi seorang pemimpin sungguh bernilai tinggi. Bernutrisi tinggi. Setiap ucapannya menjadi terasa penting dan selalu diingat publik ramai.

Oleh karena itu seorang pemimpin tidak bisa mengumbar narasi seenak perutnya. Apalagi menyangkut hajat publik dan khalayak ramai.

Tak heran bila saat menjadi pemimpin, para pemimpin negara terasa sangat berhati-hati mengeluarkan narasi dan pandangannya. Bahkan terkadang pelit bernarasi.

Kondisi ini adalah sebuah upaya untuk menjaga kehati-hatian dan kewibawaan seorang pemimpin di mata publik.

Fenomena ini memfaktakan kepada kita sebagai warga masyarakat, bahwa seorang pemimpin apakah pemimpin negara hingga pemimpin publik dalam lingkup tugas terkecil sekalipun,  tak bisa berbicara " seenak-enak perutnya.

Semua itu untuk menjaga martabat dan kewibawaannya sebagai pemimpin di hadapan khalayak ramai.

Terlalu banyak bernarasi di publik tidak berarti membuat publik simpati dan mengeskalasi figur seorang pemimpin di hadapan masyarakat. 

Justru narasi pemimpin yang berlebihan menjadi santapan khalayak ramai yang tercatat dalam otak publik. Dan narasi dari seorang pemimpin itu akan menjadi sebuah persoalan baru ketika narasi itu gagal terimplementasi dengan baik sesuai harapan publik.

Narasi yang terpublikasi dalam ruang publik dan belum dapat terealisasi dengan benar pada porsi yang sesuai dalam benak publik, membuat citra seorang pemimpin merosot. 

Dan bukan tak mungkin pemimpin tersebut digelari omdo. Cuma bisa omong doang. Cuma omon-omon. Seorang pemimpin yang baik, tentunya lebih baik banyak bekerja untuk kepentingan publik dibandingkan terlalu banyak bernarasi kepada khalayak ramai.

Dikhawatirkan bila terlalu banyak bernarasi akan membuat khalayak ramai jenuh dan menganggap narasi seorang pemimpin itu bagian dari pencitraan.

Apalagi bila narasi yang terucap ke publik tak sesuai harapan yang berujung kepada terkilir. Tentunya ini merugikan pemimpin itu sendiri. 

Kepercayaan publik kepada pemimpin menjadi minus. Dan mendapat kepercayaan dari khalayak ramai itu sangat sulit, bahkan teramat sulit. Nukleusnya lebih baik banyak bekerja untuk publik dari pada terlalu banyak mengumbar narasi kepada publik.

Rusmin Sopian
Mantan jurnalis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan 


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya