Berita

Ilustrasi (Dok. RMOL)

Bisnis

OJK Pastikan Gelombang PHK Belum Berdampak Sistemik ke Industri Dana Pensiun

SELASA, 28 JULI 2026 | 07:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan dukungan penuh bagi manajer investasi (MI) yang ingin memperluas jangkauan ke sektor pembiayaan hari tua melalui pembentukan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). 

Sejak regulasi anyar POJK Nomor 35 Tahun 2024 berlaku, DPLK Sinarmas Asset Management tercatat sebagai satu-satunya entitas yang resmi didirikan oleh MI.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, membeberkan bahwa saat ini ada satu lagi MI yang berkas permohonan izin pembentukan DPLK-nya tengah diproses oleh OJK.


Menurut Ogi, keterlibatan manajer investasi di lini bisnis ini menuntut kesiapan yang matang dari segala lini—tidak terbatas pada aspek permodalan dan tata kelola saja, melainkan juga keandalan operasional.

Pasalnya, iklim operasional DPLK sangat kontras dengan pengelolaan reksa dana yang berfokus pada imbal hasil investasi. DPLK memikul tanggung jawab tata kelola administrasi anggota jangka panjang, layanan kepesertaan, distribusi dana pensiun, hingga pemenuhan kepatuhan pelaporan kepada pengawas industri.

"Kesiapan sistem informasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur operasional menjadi faktor penting sebelum manajer investasi memasuki bisnis DPLK," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin 27 Juli 2026. 

Langkah makin banyaknya pemain baru di pasar DPLK ini disambut positif oleh OJK. Kehadiran mereka diharapkan mampu memacu inovasi produk, memperbanyak alternatif pilihan bagi masyarakat, dan menggenjot penetrasi program pensiun sukarela nasional, dengan tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian serta perlindungan konsumen.

Merujuk data per Mei 2026, return on investment (RoI) industri dana pensiun berada di angka 0,51 persen, sedikit melambat bila disandingkan dengan catatan April 2026 yang sebesar 0,55 persen.

Ogi memaparkan bahwa dinamika pergerakan pasar keuangan, termasuk fluktuasi harga instrumen surat berharga dan situasi pasar modal, menjadi pendorong utama perubahan nilai RoI tersebut.

"Mengingat sebagian besar portofolio investasi dana pensiun ditempatkan pada instrumen pasar keuangan, maka kinerja investasi akan dipengaruhi oleh perkembangan kondisi pasar," sebutnya.

Adapun akumulasi RoI dana pensiun hingga pengujung tahun kelak amat bergantung pada performa pasar keuangan secara menyeluruh, mencakup tren pasar obligasi, dinamika pasar saham, pergerakan suku bunga, hingga efektivitas strategi investasi masing-masing pengelola.

Di saat yang sama, OJK konsisten mendorong pemanfaatan teknologi di sektor dana pensiun guna mendongkrak mutu layanan peserta, memperluas jangkauan pasar, dan menciptakan efisiensi operasional.

Meski begitu, penetrasi digitalisasi saat ini belum seragam. Mayoritas penyelenggara memang sudah memanfaatkan portal peserta, platform informasi kepesertaan, serta penyampaian manfaat secara elektronik.

Namun, tingkat adopsinya masih sangat bergantung pada skala bisnis, tingkat kepuasan operasional, serta kesiapan infrastruktur tiap lembaga.

Sejumlah ganjalan utama dalam proses migrasi digital ini antara lain besarnya kebutuhan modal investasi TI, penguatan benteng keamanan siber, peningkatan kapabilitas SDM, hingga integrasi dengan sistem lama (legacy system).

"OJK akan terus mendorong transformasi digital dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan data peserta," imbuhnya.

Menilik data Mei 2026, total dana investasi yang dikelola industri dana pensiun menyentuh Rp1.619,54 triliun, tumbuh 7,76 persen secara tahunan (year-on-year). Porsi alokasi dana masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1.056,79 triliun (65,25 persen), disusul penempatan instrumen deposito sebesar Rp222,35 triliun (13,73 persen).

Melihat komposisi ini, OJK menilai belum ada indikasi pergeseran alokasi dana secara signifikan keluar dari SBN. Instrumen pemerintah ini tetap menjadi pilihan favorit karena menawarkan keseimbangan ideal antara aspek keandalan, likuiditas, dan imbal hasil, serta selaras dengan karakteristik kewajiban jangka panjang dana pensiun.

Sementara itu, akumulasi pembayaran manfaat dana pensiun sukarela per Mei 2026 telah menembus Rp19,02 triliun. OJK memastikan terus memantau dinamika pasar tenaga kerja serta dampaknya terhadap ketahanan industri dana pensiun.

Pada dasarnya, besaran pembayaran manfaat dipengaruhi oleh dinamika jumlah peserta yang memasuki purnatugas, peserta yang mengundurkan diri sesuai aturan program, serta karakteristik internal dari tiap-tiap dana pensiun.

Ogi menegaskan, fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak belakangan ini belum membawa dampak sistemik terhadap ketahanan industri dana pensiun secara umum.

"OJK akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan industri serta memastikan setiap dana pensiun tetap mampu memenuhi kewajiban pembayaran manfaat kepada peserta sesuai ketentuan yang berlaku," tutupnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya