Berita

Ilustarsi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Irak dan Suriah Teken MoU Rehabilitasi Pipa Minyak Chevron

SABTU, 18 JULI 2026 | 11:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah terganggunya pengiriman minyak dunia akibat memanasnya konflik AS-Israel dengan Iran di kawasan Selat Hormuz, Irak dan Suriah sepakat menghidupkan kembali jalur pipa minyak mentah yang telah mati sejak 2003. Proyek ini diharapkan menjadi alternatif penting bagi ekspor minyak dari Timur Tengah menuju Laut Mediterania.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di Washington, Amerika Serikat, pada Jumat 17 Juli 2026, waktu setempat, dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) antara Perusahaan Minyak Basra dari Irak dan Perusahaan Minyak Suriah. Penandatanganan dilakukan dalam pertemuan Dewan Bisnis AS-Irak dan turut disaksikan Menteri Energi AS Chris Wright.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Irak (INA), perusahaan energi asal AS, Chevron, akan memimpin rehabilitasi jalur pipa yang menghubungkan Haditha di Irak dengan Baniyas di Suriah. Jalur tersebut merupakan bagian dari jaringan pipa yang sebelumnya mengalirkan minyak dari wilayah kaya minyak Kirkuk ke pelabuhan Baniyas di pesisir Laut Mediterania.


Pemerintah AS menyambut baik kesepakatan tersebut. Departemen Luar Negeri AS menyebut proyek ini sebagai infrastruktur prioritas yang memiliki arti strategis, baik bagi hubungan Irak-Suriah maupun stabilitas kawasan.

"Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin AS untuk melaksanakan aspek teknis dan keuangan proyek ini," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, dikutip Sabtu, 18 Juli 2026.

Departemen Luar Negeri AS juga menilai kesepakatan ini sebagai langkah penting bagi kedua negara.

"Pengumuman hari ini menandai tonggak penting bagi kawasan ini dan bagi hubungan Suriah-Irak," lanjutnya.

Menurut pemerintah AS, jalur pipa yang direhabilitasi nantinya akan memiliki kapasitas awal mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah per hari. Selain proyek pipa minyak tersebut, Irak juga disebut akan menandatangani sekitar 50 perjanjian dan nota kesepahaman dengan AS dengan nilai mencapai 60 miliar Dolar AS.

Jalur pipa Kirkuk-Baniyas sendiri tidak lagi beroperasi sejak mengalami kerusakan akibat invasi AS ke Irak pada 2003. Upaya menghidupkan kembali jalur ini muncul ketika arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menurun tajam akibat meningkatnya konflik di kawasan, sehingga banyak negara mulai mencari rute ekspor alternatif untuk menjaga pasokan energi global.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Berkunjung ke USS Missouri

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:08

Legislator PDIP Minta Pemerintah Gercep Atasi Titik Panas di Sejumlah Wilayah

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:48

Menakar Arah Pemerataan Lewat Pelayaran Perintis

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:20

TNI Kirim Satgas Kompi Zeni dalam Misi Perdamaian PBB di Kongo

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:58

Pemerintah Didorong Segera Bentuk Badan Rempah dan Herbal Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:38

PBB Dukung Penuh Pemerintahan Prabowo dan Bidik Kemenangan 2029

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:18

Ancaman Industri Hasil Tembakau dan Agenda Global

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:59

BRI Gelar KKB Expo Hadirkan Kemudahan Layanan Pembiayaan Kendaraan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:45

Data Pengungsi Papua Harus dapat Dipertanggungjawabkan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:20

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selengkapnya