Berita

Aksi teatrikal Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia di Gedung Merah Putih KPK, Kamis siang, 16 Juli 2026. (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Politik

Aksi KPK Sakit Jiwa Sorot Penanganan Korupsi Bea Cukai

KAMIS, 16 JULI 2026 | 16:52 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia menggelar aksi teatrikal bertajuk "KPK Sakit Jiwa" di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis, 16 Juli 2026.

Aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap penanganan perkara dugaan korupsi importasi barang yang melibatkan Blueray Cargo. Melalui aksi teater, para seniman mengaku ingin menyampaikan kritik terhadap proses penegakan hukum yang dinilai belum mengungkap perkara secara menyeluruh.

"Kami menyatakan bahwa KPK saat ini telah kehilangan nalar hukumnya. Panggung teater ini adalah medium perlawanan kami dalam menarasikan 'kegilaan' yang terjadi di dalam lembaga antirasuah. Kami tidak akan tinggal diam melihat penegakan hukum yang sarat dengan tebang pilih," kata Koordinator Lapangan, Pamit Andrianto, Kamis siang, 16 Juli 2026.


Pamit mengatakan, aksi teatrikal tersebut juga menjadi bentuk protes terhadap penanganan perkara Blueray Cargo yang dinilai masih menyisakan banyak tanda tanya.

"Kami hadir membawa pesan lewat panggung teater karena KPK hari ini benar-benar sedang 'Sakit Jiwa'. Bagaimana tidak, nama anggota BPK, Nyoman Adhi Suryadnyana, sudah muncul di persidangan namun tidak pernah dipanggil dan diperiksa oleh penyidik. Ini adalah bukti nyata bahwa KPK tidak serius," ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti sekitar 20 perusahaan forwarder serta perusahaan ekspor-impor yang hingga kini dinilai belum tersentuh proses hukum.

"Hingga saat ini, pihak-pihak tersebut belum tersentuh oleh penyidik. Ini adalah pengabaian keadilan yang nyata. Kami menuntut transparansi dan ketegasan. Jika KPK tetap enggan bekerja secara profesional, maka masyarakat berhak terus mengawal penanganan perkara ini," tegas Pamit.

Sementara itu, Koordinator Aksi, Rahmat Himran mengatakan, langkah aksi teatrikal merupakan bentuk tanggung jawab moral kalangan seniman terhadap kondisi penegakan hukum nasional.

Menurut Rahmat, masyarakat sipil memiliki peran penting untuk mengawal agar penanganan perkara dugaan korupsi di sektor kepabeanan dilakukan secara transparan dan tuntas.

"Skandal ini merupakan perkara besar terkait Bea Cukai. Semuanya harus diungkap segamblang-gamblangnya. Kami berharap proses penegakan hukum berjalan secara objektif, transparan, dan tidak berhenti pada pihak-pihak tertentu saja," ujar Rahmat.

Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia berharap aksi teatrikal tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat sipil akan terus mengawal proses penegakan hukum hingga dugaan korupsi di sektor kepabeanan diungkap secara menyeluruh demi terciptanya pemerintahan yang bersih dari korupsi.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Febrie Adriansyah Resmi Ajukan Gugatan Praperadilan ke PN Jaksel

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:27

Menko Polkam: Aktivitas Masyarakat Tetap Normal, Pasar dan Mal Ramai

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:26

Gelombang Reshuffle Berlanjut, Zelensky Pecat Dubes Ukraina untuk AS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:22

Harga Garam Brebes Anjlok saat Panen Raya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:16

Kelakuan SPPG di Ketapang: Rumah Wartawan Dikepung, Istrinya Diintimidasi

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:02

Situasi di Dalam Negeri Sangat-sangat Mantap

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:52

Laba Tergerus, Saham Lufthansa Anjlok 8 Persen

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:51

Kepemilikan Aset Tak Wajar Jadi Indikator Awal Pencucian Uang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:40

Api Membakar Lahan, Seorang Ayah Tak Pernah Pulang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:31

Koperasi Merah Putih Dinilai Jadi Penentu Implementasi Pasal 33 UUD 1945

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya