Berita

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa berziarah ke makam Ma Hazhi di bukit Yueshan, Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, Rabu 15 Juli 2026. (Foto: Dok. JMSI)

Dunia

Ziarahi Makam Ma Hazhi, Teguh Santosa: Cheng Ho Simbol Persahabatan dan Jembatan Kabudayaan

KAMIS, 16 JULI 2026 | 00:38 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Di sela kunjungan ke Provinsi Yunnan, Tiongkok, delegasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menyempatkan diri berziarah ke makam Ma Hazhi di bukit Yueshan, Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, Rabu 15 Juli 2026.

Makam yang tak jauh dari Museum Distrik Jinning itu ditemukan tahun 1894 dan membuka satu misteri yang sudah lama dicari: siapa leluhur Laksamana Cheng Ho atau Zheng He dari era Dinasti Ming di abad ke-15. 

Dunia mengenal Cheng Ho sebagai pemimpin armada Tiongkok yang melakukan pelayaran ke negeri-negeri yang ada di selatan Tiongkok, termasuk Semarang dan Palembang. Dari kepulauan nusantara, armada Cheng Ho mengunjungi Selat Malaka, juga ke Champa, Siam, lalu India, Srilanka, Selat Hormuz Iran, Laut Merah, hingga ke pantai timur Afrika.


Laksmana Cheng Ho lahir dengan nama Ma He. Dia mulai bekerja di lingkungan Istana Kaisar Zhu Yuangzhang di Nanjin pada usia 11 tahun. Lalu dia ikut Zhu Di ke Peiping atau Beijing. Adalah Zhu Di yang memberikan nama keluarga Zheng kepada Ma He.

Setelah Zhu Di memimpin Dinasti Ming dan mengganti namanya menjadi Kaisar Yongle, karier militer Cheng Ho pun semakin menanjak. Dia diangkat menjadi laksamana dan dipercaya memimpin armada Tiongkok.

Adapun Ma Hazhi yang makamnya diziarahi delegasi JMSI adalah ayahanda dari Cheng Ho. Dia disebutkan meninggal dalam perang di usia 39 tahun. Di balik nisan makam Ma Hazhi ada sebuah prasasti yang menjelaskan bahwa Cheng Ho pernah berziarah ke makam ayahnya di sela kesibukan menjadi petinggi militer di Beijing.

Kawasan di sekitar makam Ma Hazhi di puncak Bukit Yueshan dipercaya sebagai tanah kelahiran Cheng Ho. Sebuah patung Cheng Ho berukuran raksasa setinggi 5,5 meter didirikan di bukit itu. Dari ketinggian patung Cheng Ho seakan menatap jauh ke arah Danau Dian Chi yang merupakan danau terbesar dan terdalam di Yunnan.

Seperti ayahnya, Cheng Ho adalah seorang Muslim. Dia merupakan cucu keenam dari Saidianchi, mufti Yunnan pada masa itu. Di banyak tempat yang disinggahinya, Cheng Ho ikut menyebarkan ajaran agama Islam. Kini di Indonesia, ada beberapa masjid yang menggunakan nama Cheng Ho. Seperti di Palembang dan Batam. 

Adapun masjid yang pernah dibangun Cheng Ho di Semarang sejak lama telah berubah menjadi kuil Sam Poo Kong.

Jembatan Kebudayaan

Ketika berbicara di pertemuan meja bundar aliansi media Asia Selatan dan Asia Tenggara di Kunming, Selasa, 14 Juli 2026, Ketua Umum JMSI Teguh Santosa mengutip kisah Laksamana Cheng Ho sebagai bukti persahabatan Indonesia dan Tiongkok yang berlangsung sejak lama.

“Nama Laksamana Cheng Ho begitu dikenal di Indonesia. Dia tidak hanya dikenang sebagai penjelajah besar dalam sejarah, lebih dari itu ia adalah simbol persahabatan, diplomasi, dan jembatan kebudayaan,” ujar Teguh yang juga mengajar mata kuliah “HI dan Kebudayaan” dan “Politik Asia Timur” di UIN Jakarta.

“Perjalanannya menjadi bukti yang kuat dan abadi bahwa hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok telah ditempa selama ratusan tahun secara damai melalui perdagangan didasarkan sikap saling menghormati,” kata Teguh lagi.

Pembina Farah.id, Farida Farhah, yang ikut dalam ziarah ke makam Ma Hazhi menyampaikan kekagumannya pada upaya pemerintah Tiongkok mengabadikan kisah Cheng Ho. 

“Sejak kecil kita sudah sering mendengar nama Cheng Ho. Dulu kita menganggapnya sebagai legenda. Tapi ternyata ada dan nyata. Kisah hidupnya sungguh inspiratif,” ujar Farida.

Adapun Ketua JMSI Kalimantan Tengah Julius Marulitua Sinaga mengatakan, sudah sepatutnya hubungan kedua negara hari ini didasarkan pada nilai-nilai yang diwariskan Cheng Ho.

Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan menambahkan, pelayaran Cheng Ho memperlihatkan bahwa bangsa Tiongkok sejak lama memiliki ketertarikan dalam mengembangkan kebudayaan dan pembangunan ekonomi melalui perdagangan.

“Kita perlu meniru dan menerapkan semangat bangsa Tiongkok membangun negara mereka,” katanya.

Sebelum meninggalkan Bukit Yueshan, Penasihat JMSI Mursyid Sonsang, berpesan kepada staf ACJA yang mengatur perjalanan delegasi JMSI.

“Seperti Cheng Ho, kami juga siap menjadi jembatan kebudayaan dan persahabatan di era digital,” katanya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya