Berita

Chappy Hakim (kanan). (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

KAMIS, 09 JULI 2026 | 00:01 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

YOGYAKARTA selalu memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup saya. Di kota inilah saya dilahirkan pada 17 Desember 1947. Tanggal itu kemudian terasa memiliki makna tersendiri, karena 44 tahun sebelumnya, tepat pada 17 Desember 1903, Wright Brothers untuk pertama kalinya menerbangkan pesawat terbang bermesin di Kitty Hawk, North Carolina. 

Peristiwa itu menandai lahirnya era penerbangan modern dunia. Saya tentu tidak pernah merancang hidup berdasarkan kebetulan tanggal tersebut. Namun dalam perjalanan waktu, saya sering melihatnya sebagai korelasi simbolik yang indah, karena hidup saya kemudian begitu erat bersentuhan dengan dunia dirgantara, penerbangan, dan Angkatan Udara.

Meskipun lahir di Yogyakarta, masa kecil hingga remaja saya lebih banyak saya jalani di Jakarta. Dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas, semuanya saya tempuh di Jakarta. Namun Yogyakarta tetap menjadi titik awal perjalanan hidup saya, sekaligus kota yang kemudian berkali-kali memanggil saya kembali dalam peran dan tanggung jawab yang berbeda.


Pada tahun 1969, saya kembali ke Yogyakarta sebagai taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagian Udara. Dari tahun 1969 hingga 1973, saya ditempa di Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang Angkatan Udara. 

Di sana saya belajar tentang disiplin, kehormatan, tanggung jawab, keteguhan hati, kejujuran, persaudaraan, dan arti menjadi seorang perwira penerbang Angkatan Udara. Yogyakarta bukan lagi sekadar kota kelahiran, melainkan menjadi kawah candradimuka yang membentuk jalan pengabdian saya.

Perjalanan waktu kemudian membawa saya kembali ke Yogyakarta dalam peran yang berbeda. Pada tahun 1992 hingga 1994, saya mendapat amanah sebagai Komandan Wing Taruna Akademi Angkatan Udara. Beberapa tahun kemudian, dari 1997 hingga 1999, saya kembali bertugas sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara. 

Pada masa itu, saya tidak lagi berdiri sebagai taruna yang dididik, tetapi sebagai bagian dari lembaga yang ikut membentuk generasi penerus TNI Angkatan Udara. Bagi saya, tugas itu bukan sekadar jabatan, melainkan kehormatan besar, karena menyangkut pembentukan watak, karakter, dan jiwa kepemimpinan calon perwira.

Pada 7 Juli 2026, saya kembali lagi ke kampus Akademi Angkatan Udara untuk memberikan ceramah pembekalan kepada para Taruna Calon Perwira yang akan dilantik bulan depan. Berdiri kembali di lingkungan AAU, melihat wajah-wajah muda calon perwira, saya seperti menyaksikan kembali potongan panjang perjalanan hidup sendiri. Ada ingatan sebagai taruna, ada ingatan sebagai pengasuh, dan ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berbagi pengalaman kepada generasi baru.

Dalam kesempatan itu, saya juga membagikan buku-buku karya saya kepada setiap Taruna Calon Perwira yang akan segera dilantik. Bagi saya, buku itu bukan sekadar cendera mata, melainkan titipan pemikiran, pengalaman, dan harapan agar para perwira muda terus membangun tradisi membaca, berpikir, dan menulis. 

Saya juga menyerahkan sejumlah buku karya saya untuk Perpustakaan AAU dan Perpustakaan Museum Dirgantara Yogyakarta, sebagai bagian kecil dari upaya memperkaya literasi kedirgantaraan.

Yang sangat membesarkan hati adalah melihat kampus AAU yang kini semakin baik, tertata, bersih, dan membanggakan. Pertemuan dengan Gubernur AAU dan jajaran civitas akademika juga menghadirkan nostalgia yang manis. 

Sebagian besar dari mereka adalah mantan murid anal asuh saya ketika  menjabat sebagai Komandan Wing Taruna dan Gubernur AAU puluhan tahun lalu. Para taruna yang dahulu saya lihat berbaris, berlatih, dan ditempa dalam disiplin akademi, kini telah menjadi perwira senior yang memimpin, mengajar, mengasuh, dan membina generasi baru.

Di titik itulah terasa indahnya kesinambungan pengabdian. Akademi bukan sekadar bangunan, lapangan apel, ruang kelas, atau barak taruna. Akademi adalah mata rantai nilai. Ia menyambungkan disiplin, kejujuran, kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejak tahun 2019, empat belas tahun setelah saya pensiun dari TNI Angkatan Udara, saya mendirikan Pusat Studi Air Power Indonesia. Wadah ini saya maksudkan sebagai ruang belajar bersama antara akademisi dan praktisi dirgantara, tempat pengalaman lapangan bertemu dengan kajian ilmiah, dan tempat gagasan tentang kekuatan udara, kedaulatan udara, serta masa depan dirgantara Indonesia terus dikembangkan.

Pada akhirnya, rentang panjang perjalanan hidup saya memang banyak dihabiskan di Yogyakarta, kota tempat saya dilahirkan, kota tempat saya ditempa, dan kota yang juga menjadi tempat lahirnya Angkatan Udara Republik Indonesia. 

Sebuah kota yang bukan hanya menyimpan kenangan pribadi, tetapi juga merekam jejak sejarah pengabdian dirgantara bangsa. Bagi saya, langit bukan sekadar ruang di atas kepala kita. Langit adalah masa depan. Nenek moyangku orang pelaut, anak cucuku insan dirgantara. Salam Swa Bhuana Paksa.

*Penulis aktif dalam Pusat Studi Air Power Indonesia
 

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Kini Posko Pengungsian Korban Gempa NTT Tersedia Internet Gratis

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:45

HUT ke-81 RI Momen Memperkuat Kebersamaan dan Gotong Royong

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:28

Merdeka Bernegara, Jalan Panjang Berbangsa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:00

32 Kendaraan Hias Semarakkan Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara di Monas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:50

Langkah Cepat Polri Tangani Korban Gempa NTT Tuai Apresiasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:30

Polda Malut Terima 16 Senjata Api Ilegal dari Warga

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:05

Saatnya Indonesia Berdaulat dalam Sektor Pangan dan Energi

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:45

Upaya Menjaga Kedaulatan Pilihan Pengurus NU

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:22

BCA dan Pegadaian Luncurkan Layanan Tabungan Emas di myBCA

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:51

Listrik dan Telekomunikasi di Flores Hampir Pulih 100 Persen

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:50

Selengkapnya