Penyandang disabilitas tuna daksa sekaligus perajut kain, Elis Juarsih (47) mengajarkan cara membuat gelang dengan merajut benang kepada anggota Green Warriors. (Foto: Dok. Pertamina)
PT Pertamina (Persero) memberdayakan penyandang disabilitas di Kampung Rajut Binong Jati, Bandung, Jawa Barat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pelajar dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Melalui program bertajuk Bersama Merajut Asa Kita, penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Fable memperoleh dukungan berupa akses bahan baku, pendampingan, hingga pemasaran produk rajut sehingga dapat bekerja dari rumah sesuai kondisi masing-masing.
Koordinator Komunitas Fable, Elis Juwarsi mengaku program tersebut membantu para perajin difabel memperoleh penghasilan yang lebih stabil.
"Dulu kami kesulitan memasarkan hasil kerajinan. Sekarang kami bisa terus berkarya dan memiliki penghasilan yang lebih tetap. Di sini kami dipandang dari kemampuan, bukan dari keterbatasan," ujar Elis dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Saat ini terdapat sekitar 10 anggota Komunitas Fable yang aktif memproduksi berbagai kerajinan rajut. Selain meningkatkan pendapatan, program tersebut juga membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya secara mandiri.
Local Hero Kampung Rajut Binong Jati, Eka Rahmat Jaya mengatakan, pemberdayaan masyarakat juga dibarengi dengan pengelolaan limbah secara berkelanjutan.
"Limbah rajut dan botol plastik kami olah kembali menjadi bahan baku maupun produk baru. Dengan begitu, warga mendapat tambahan penghasilan sekaligus mengurangi sampah," katanya.
Praktik tersebut menjadi materi pembelajaran bagi sekitar 15 pelajar SMA di Kota Bandung yang mengikuti program GreenBus Pertamina. Para peserta belajar merajut, memilah limbah tekstil, hingga menyaksikan proses daur ulang sisa benang menjadi produk bernilai ekonomi.
Salah seorang peserta, Yasmin Hasari dari SMAN 12 Bandung, mengaku mendapat pengalaman baru mengenai pengelolaan sampah.
"Yang paling berkesan buat aku adalah belajar memilah sampah dan melihat bahwa limbah masih bisa dimanfaatkan kembali," ujarnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari manfaat ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Melalui pemberdayaan perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati, kami ingin membuktikan bahwa inklusivitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan serta menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat," kata Baron.
Menurutnya, program tersebut diharapkan terus berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.