"Saya datang untuk menulis tentang sebuah universitas. Saya pulang dengan cara pandang baru tentang masa depan Bali."
SAYA datang ke Universitas Udayana membawa tiga daftar pertanyaan. Tentang penerimaan mahasiswa baru, pembangunan laboratorium teknologi, dan sebuah monumen yang sedang dibangun di kawasan kampus. Semuanya terdengar seperti agenda rutin sebuah perguruan tinggi. Saya membayangkan akan pulang dengan catatan tentang jumlah mahasiswa baru, anggaran pembangunan, atau target penyelesaian proyek.
Ternyata saya keliru.
Di ruang Senat Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana, percakapan kami justru membawa saya jauh dari urusan administrasi kampus. Semakin lama beliau berbicara, semakin saya merasa bahwa topik yang kami bahas bukan lagi tentang Universitas Udayana. Yang sedang dibicarakan adalah Bali. Lebih tepatnya, Bali yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selama puluhan tahun, Pulau Dewata membangun reputasinya sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Pantai-pantainya menjadi kartu pos internasional. Budayanya dipelajari wisatawan dari berbagai negara. Setiap tahun kita menunggu angka kunjungan wisatawan, membangun infrastruktur, membuka destinasi baru, dan berharap ekonomi terus bergerak.
Namun di tengah semua itu, saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Setelah dunia mengenal Bali karena tempatnya, apakah suatu hari nanti dunia juga akan mengenal Bali karena manusianya?
Pertanyaan itu muncul ketika Prof. Sudarsana mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi menurut saya sangat penting.
"Bali adalah etalase Indonesia. Banyak tamu internasional yang datang ke Bali kemudian ingin melihat bagaimana universitas di Indonesia. Karena itu Universitas Udayana harus mampu menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia kepada dunia."
Kalimat itu mengubah arah percakapan kami.
Saya datang mengira universitas hanya salah satu institusi pendidikan di Bali. Namun di kepala seorang rektor, universitas ternyata juga merupakan wajah sebuah daerah. Jika dunia datang melihat Bali, maka kampus menjadi salah satu tempat di mana kualitas masyarakat Bali ikut dinilai.
Pandangan itulah yang kemudian menjelaskan mengapa beliau berkali-kali kembali berbicara tentang sumber daya manusia.
Saat saya bertanya mengenai Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS), saya semula mengira pembahasannya akan berkisar pada jumlah penerima beasiswa atau mekanisme seleksi. Ternyata bukan itu yang paling beliau tekankan.
"Program ini sangat strategis untuk pengembangan sumber daya manusia. Harapan kami program ini tidak hanya berjalan satu, dua, atau tiga tahun, tetapi terus berlanjut menjadi program strategis Provinsi Bali. Mungkin dengan dana abadi seperti LPDP."
Universitas Udayana memang membuka seluruh program studi, termasuk Kedokteran, bagi mahasiswa penerima SKSS selama memenuhi persyaratan. Tahun lalu ada 99 mahasiswa yang menerima manfaat program tersebut, sementara tahun ini kampus menargetkan hingga 250 penerima. Namun bagi saya, angka-angka itu bukan inti ceritanya.
Yang saya tangkap justru keyakinan bahwa pendidikan tidak boleh bergantung pada kemampuan ekonomi seseorang. Sebab sebuah daerah tidak mungkin berbicara tentang masa depan jika masih ada anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena persoalan biaya.
Percakapan kemudian bergeser ke pembangunan Gedung Laboratorium Smart System Integrated and Technologies.
Sekali lagi saya datang dengan asumsi yang sederhana. Saya membayangkan beliau akan menjelaskan spesifikasi bangunan, nilai investasi, atau fasilitas yang tersedia.
Yang saya dengar justru pembicaraan tentang
Artificial Intelligence, quantum computing, startup teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan perubahan dunia kerja.
"Kita mulai dari menyiapkan sumber daya manusia yang memahami teknologi dan perkembangan AI. Ke depan kita berharap lahir
startup-startup berbasis teknologi dan sumber daya manusia yang mampu mendukung perkembangan Bali."
Di titik itu saya mulai memahami bahwa laboratorium tersebut sebenarnya hanyalah alat.
Yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah gedung.
Yang sedang dibangun adalah keberanian Bali untuk ikut menciptakan teknologi, bukan hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan di tempat lain.
Bagi saya, ini adalah cara pandang yang menarik. Selama ini Bali sering dibicarakan sebagai tujuan wisata, tetapi jarang dibicarakan sebagai tempat lahirnya inovasi. Prof. Sudarsana tampaknya ingin mengubah cara pandang itu, dimulai dari kampus yang dipimpinnya.
Namun ada bagian lain yang membuat saya semakin memahami cara beliau melihat masa depan.
Ketika saya bertanya tentang pembangunan Monumen Perwujudan Prabu Udayana, saya mengira pembahasannya akan berhenti pada desain atau fungsi sebuah landmark kampus.
Ternyata beliau justru berbicara tentang identitas.
Tentang Prabu Udayana sebagai inspirasi kepemimpinan. Tentang Tri Hita Karana sebagai pola ilmiah pokok Universitas Udayana. Tentang pentingnya mahasiswa mengenal akar budayanya. Bahkan tentang digitalisasi lontar sebagai cara memanfaatkan teknologi untuk menjaga warisan intelektual Bali.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat oleh kecerdasan buatan, beliau justru mengingatkan bahwa modernisasi tidak harus berarti meninggalkan budaya.
Dan mungkin, di sinilah saya akhirnya menemukan benang merah dari seluruh percakapan kami.
Beasiswa, laboratorium, dan monumen ternyata bukan tiga proyek yang berdiri sendiri.
Ketiganya berbicara tentang satu hal yang sama.
Tentang manusia.
Beasiswa memastikan setiap anak Bali memiliki kesempatan belajar.
Laboratorium menyiapkan mereka menghadapi revolusi teknologi.
Sementara budaya memastikan mereka tidak kehilangan jati diri ketika memasuki dunia yang semakin global.
Ketika saya meninggalkan Kampus Universitas Udayana sore itu, tiga pertanyaan yang saya bawa saat datang sebenarnya telah terjawab semuanya.
Saya tahu bagaimana program beasiswa dijalankan.
Saya tahu mengapa laboratorium baru dibangun.
Saya juga tahu apa makna Monumen Perwujudan Prabu Udayana.
Namun anehnya, saya justru pulang membawa satu pertanyaan baru yang jauh lebih besar.
Selama ini Bali begitu berhasil memperkenalkan pantainya kepada dunia.
Apakah kita juga sedang bersungguh-sungguh memperkenalkan manusianya?
Saya tidak tahu apakah semua gagasan yang disampaikan Prof. I Ketut Sudarsana akan terwujud persis seperti yang dibayangkannya. Waktu yang akan menjawabnya.
Tetapi saya pulang dengan satu keyakinan.
Masa depan Bali mungkin tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun.
Ia juga akan ditentukan oleh seberapa banyak manusia unggul yang lahir dari ruang-ruang kelas, laboratorium, dan nilai-nilai budaya yang hari ini sedang dipersiapkan.
Dan mungkin, itulah investasi terbesar yang bisa dilakukan Bali untuk dirinya sendiri.