Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

BNBR dan DEWA Kompak Tertekan, Mana yang Lebih Menarik untuk Investor?

SELASA, 07 JULI 2026 | 13:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dua emiten yang berada dalam ekosistem Grup Bakrie, yaitu PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), sama-sama bergerak di zona merah hingga perdagangan siang, Selasa 7 Juli 2026. 

Meski mengalami koreksi, keduanya tetap mencatat nilai transaksi yang cukup besar dan menawarkan karakter bisnis serta valuasi yang berbeda.

BNBR merupakan perusahaan investasi yang memiliki portofolio usaha di berbagai sektor strategis. Melalui sejumlah anak usaha, perseroan mengembangkan bisnis manufaktur pipa baja, material konstruksi, komponen otomotif, infrastruktur, energi, hingga investasi di sektor kendaraan listrik dan teknologi. Dengan model bisnis yang terdiversifikasi, pergerakan saham BNBR kerap dipengaruhi oleh prospek berbagai sektor sekaligus.


Sementara itu, DEWA merupakan perusahaan jasa pertambangan yang menyediakan layanan penambangan terintegrasi, mulai dari pengupasan lapisan tanah (overburden removal), penambangan batu bara dan mineral, pengangkutan, hingga pengelolaan alat berat. Kinerja DEWA sangat erat kaitannya dengan aktivitas industri pertambangan nasional, terutama batu bara, serta belanja modal perusahaan-perusahaan tambang.

Data dari IDN Financials menunjukkan bahwa hingga pukul 12.50 WIB, saham BNBR berada di level Rp102 atau turun 2 poin (2 persen) dari penutupan sebelumnya di Rp104. Saham ini dibuka di level Rp105, sempat menyentuh level tertinggi Rp105 dan terendah Rp100.

Aktivitas perdagangan BNBR tergolong tinggi. Volume transaksi mencapai sekitar 4,5 juta lot dengan nilai transaksi Rp45,9 miliar melalui 13.987 kali transaksi. Tingginya aktivitas tersebut menunjukkan saham ini masih menjadi salah satu yang aktif diperdagangkan meski berada dalam tekanan jual.

Dari sisi fundamental, BNBR membukukan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar Rp1,54 dengan price to earnings ratio (PER) mencapai 66 kali. PER yang tinggi menunjukkan harga saham BNBR diperdagangkan jauh di atas laba yang dihasilkan perusahaan. Kondisi ini umumnya mencerminkan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan bisnis perseroan di masa depan, meski sekaligus membuat valuasinya relatif lebih mahal.

Kapitalisasi pasar BNBR tercatat sekitar Rp17,69 triliun, menjadikannya emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di industrinya serta berada di peringkat ke-102 dari seluruh perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Di sisi lain, saham DEWA ditutup di level Rp314 atau turun 4 poin (1 persen) dari penutupan sebelumnya di Rp318. Sepanjang perdagangan, saham ini bergerak pada rentang Rp310 hingga Rp320 setelah dibuka di level Rp318.

Volume perdagangan DEWA mencapai sekitar 1,32 juta lot dengan nilai transaksi Rp41,7 miliar dan frekuensi 7.131 kali transaksi. Meski volumenya lebih kecil dibanding BNBR, nilai transaksinya tetap tergolong besar sehingga menunjukkan minat investor terhadap saham ini masih cukup tinggi.

Berbeda dengan BNBR, DEWA memiliki valuasi yang jauh lebih rendah. Emiten ini mencatat EPS sebesar Rp112,66 dengan PER hanya tiga kali. Artinya, harga saham DEWA diperdagangkan sekitar tiga kali laba tahunannya. Secara umum, PER yang rendah sering dipandang sebagai indikator valuasi yang murah, meski tetap harus dilihat bersama prospek bisnis, kualitas laba, dan kondisi industri pertambangan.

Kapitalisasi pasar DEWA mencapai Rp12,78 triliun, menempatkannya sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di kelompok emiten jasa pertambangan.

Jika dibandingkan, kedua emiten ini menawarkan karakter investasi yang berbeda. BNBR mengandalkan diversifikasi bisnis di berbagai sektor dengan valuasi yang relatif premium. Sebaliknya, DEWA merupakan emiten yang lebih fokus pada sektor jasa pertambangan dan diperdagangkan dengan valuasi yang jauh lebih rendah.

Meski keduanya terkoreksi pada perdagangan hari ini, tingginya nilai transaksi menunjukkan perhatian pelaku pasar terhadap kedua saham tersebut masih cukup besar. 

Ke depan, investor diperkirakan akan mencermati perkembangan kinerja keuangan, ekspansi usaha, serta prospek sektor industri masing-masing sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga saham BNBR dan DEWA.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya