Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Minyak Mentah Memanas, Daya Tarik CPO sebagai Bahan Baku Biodiesel Meroket

SELASA, 07 JULI 2026 | 13:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kenaikan harga minyak mentah dunia sukses menjadi motor penggerak bagi komoditas minyak kelapa sawit (CPO). 

Melesatnya harga minyak bumi otomatis mendongkrak daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel yang lebih ekonomis dan kompetitif. 

Sentimen positif ini berhasil membawa harga kontrak berjangka CPO Malaysia menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa 7 Juli 2026.


Pada awal perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO untuk pengiriman September melonjak 26 Ringgit atau 0,57 persen ke level 4.576 Ringgit per ton.

Meskipun kenaikan harga minyak mentah sempat tertahan oleh peralihan fokus pasar dari ketegangan geopolitik Timur Tengah ke proyeksi suplai-permintaan global, posisinya yang tetap tinggi menjadi katalis kuat. Saat minyak fosil mahal, industri beralih memburu minyak nabati sebagai alternatif energi terbarukan.

Kondisi ini diperparah oleh reli di pasar minyak nabati kompetitor yang mempersempit ruang koreksi CPO.

Di bursa Dalian, kontrak minyak sawit menguat tajam 1,46 persen, disusul minyak kedelai yang naik 1,29 persen. 

Di CBOT (Chicago), harga minyak kedelai ikut terkerek naik 0,3 persen. 

CPO memiliki korelasi erat dengan minyak nabati lainnya. Ketika harga minyak kedelai dan Dalian menguat, permintaan pasar global secara otomatis akan bergeser mencari CPO yang secara relatif menjadi lebih atraktif.

Sinyal hijau dari sektor biofuel ini langsung direspons agresif oleh pelaku industri. Dari dalam negeri, PT Agrinas Palma Nusantara mengumumkan rencana strategis untuk membangun pabrik biodiesel dan bioetanol baru. 

Langkah ini diambil guna menangkap peluang agenda energi terbarukan pemerintah, sekaligus memperluas portofolio komoditas perusahaan ke sektor kedelai dan singkong.

Meski tren sedang bullish, penguatan mata uang Ringgit Malaysia sebesar 0,12 persen terhadap Dolar AS sedikit menahan laju kenaikan. Ringgit yang lebih kuat membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi para importir luar negeri.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya