Berita

Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Dr. Amin Mudzakir (pojok kanan) dalam kegiatan Holaqoh Muktamar bertajuk "Quo Vadis NU", yang digelar di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu malam kemarin, 4 Juli 2026. (Foto: YouTube Pesantren Ciganjur)

Politik

Kepemimpinan PBNU Dicap Cuma Ajang Sediakan Jalur Tipu-tipu

SENIN, 06 JULI 2026 | 00:08 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapat kritik, khususnya terkait kontribusi aktif kader terhadap pemerintahan hanya melalui jalur politik yang penuh intrik.

Kritik itu disampaikan Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Dr. Amin Mudzakir, dalam kegiatan Holaqoh Muktamar bertajuk "Quo Vadis NU", yang digelar di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu malam kemarin, 4 Juli 2026.

"Padahal secara faktual sebenarnya NU itu bagian dari negara," ujar Amin dikutip dari siaran ulang kanal Youtube Pesantren Ciganjur, pada Minggu, 5 Juli 2026.


Menurutnya, pengertian civil society yang dianut PBNU haruslah di-redefinisi, agar tidak hanya dikonotasikan sebagai penerima dana hibah tanpa ada pengelolaan dan transparansi yang jelas.

"Kader-kader, kader-kader yang apa, kader-kader di IPPNU, di PMII, di Ansor, macam-macam itu yang masih muda-muda ini bisa masuk ke dalam negara, bukan dari pintu masuk elektoral gitu loh," tuturnya.

Pemberdayaan kader-kader NU yang selama ini berjalan, menurut Amin, hanya terbatas pada kompetisi di pemilihan umum (pemilu), sementara di sektor profesional-teknokratis masih terbilang lemah.

"Selama ini kan selalu ngantrinya di, di elektoral. Dan itu banyak tipu-tipunya gitu loh, banyak akal-akalannya," ucapnya.

Oleh karena itu, Amin mendorong agar gaya-gaya politis dalam pemberdayaan kader di dalam pemerintah dan pengelolaan negara tidak menjadi patokan PBNU.

"Nah, ini birokrasi ini harus kita kemukakan, harus kita tampakkan sebagai salah satu, tidak hanya alternatif, bahkan mungkin juga pintu pokok untuk memastikan jawaban Quo Vadis NU ini," jelasnya.

"Saya kira itu. Jadi, pokok-pokok ini mungkin sepele tapi saya ingin terus sampaikan sebagai salah satu isu yang penting, terutama dalam Muktamar mendatang," demikian Amin menambahkan.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya