Berita

Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Dr. Amin Mudzakir (pojok kanan) dalam kegiatan Holaqoh Muktamar bertajuk "Quo Vadis NU", yang digelar di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu malam kemarin, 4 Juli 2026. (Foto: YouTube Pesantren Ciganjur)

Politik

Berikut Kritik PP ISNU terhadap Kepemimpinan PBNU

MINGGU, 05 JULI 2026 | 23:11 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemberdayaan kader di pemerintahan melalui jalur non-politik dianggap belum dipikirkan penyerapannya oleh kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekarang ini.

Hal itu disampaikan Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Dr. Amin Mudzakir dalam kegiatan Holaqoh Muktamar bertajuk "Quo Vadis NU" yang digelar di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu malam kemarin, 4 Juli 2026.

Dia menjelaskan, secara faktual hampir sebagian, separuhnya dari pengurus NU adalah birokrat meskipun hanya di Kementerian Agama.


"Terus terang, saya tidak atau belum menemukan nih di luar Kementerian Agama gitu ya yang adalah pengurus NU. Beberapa mungkin di Kementerian Pendidikan gitu ya karena background-nya dosen atau apa. Tapi di kementerian-kementerian yang lain hampir enggak ada," ujar Amin dikutip melalui siaran ulang Youtube Pesantren Ciganjur, Minggu, 5 Juli 2026.

Menurutnya, dengan jumlah Nahdliyin yang bahkan lebih banyak daripada jumlah pemilih Presiden Prabowo Subianto, yakni mencapai sekitar 140 juta, dalam konteks birokrasi Amin meyakini NU belum punya pengaruh signifikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Sehingga apa? Sehingga, problematik-problematik yang tadi disampaikan, soal transparansi, soal akuntabilitas yang sesungguhnya menjadi kata kunci dalam birokrasi kita, itu kok tidak muncul di NU gitu ya," tegasnya. 

Sebagai contoh, masalah transparansi tata kelola keuangan yang disampaikan oleh Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi yang juga menjadi narasumber dalam acara ini, adalah salah satu dampak dari minimnya pemberdayaan kader NU.

"Nah, ini juga salah satu nanti pertanyaan yang harus kita cari ya. Apakah memang dalam hal ini NU hanya sekadar instrumen saja gitu ya, bukan tempat berkhidmat gitu ya," tuturnya.

"Jadi bagaimana membuat satu sistem teknokrasi gitu kan sehingga NU ini bukan sekadar besar secara jumlah, tapi memang sungguh-sungguh siap ya, siap tadi dikatakan menghadapi abad kedua dan seterusnya," sambung Amin.

Oleh karena itu, dia mendorong agar Muktamar PBNU mendatang yang juga akan memilih pimpinan baru harus membuat pokok-pokok pikiran untuk mampu mendistribusikan kader-kader NU ke berbagai sektor di pemerintahan.

Karena selama ini, dia Amin perhatikan, kader-kader NU kebanyakan masih harus melalui jalur politik untuk terlibat aktif di dalam pemerintahan, dan hal itu cenderung tidak mempertimbangkan kemampuan teknokratis melainkan politis.

"Kaderisasi teman-teman IPPNU, PMII, Ansor itu supaya tidak semuanya masuk ke politik, partai politik. Gitu ya. Saya enggak tahu nanti kalau ada satu satgas begitu di PBNU yang mendorong jadi PNS, ASN. Itu kelihatannya seperti sepele tapi ini penting gitu. Penting itu," demikian Amin menambahkan.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya