Berita

Ilustrasi kursi presiden. (Foto: RMOL)

Publika

Merajut Wajah Kekuasaan

MINGGU, 05 JULI 2026 | 18:42 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KUSUT! Di tengah kompleksitas dan dinamika tata kelola kehidupan modern, kerap terjadi krisis kepercayaan pada institusi publik. Diskursus mengenai efektivitas kebijakan, reformasi birokrasi, serta responsivitas kepemimpinan dalam memitigasi risiko kolektif menjadi perhatian masyarakat secara meluas.

Perlu upaya memahami secara mendalam, makna dan hakikat kekuasaan serta pelayanan melalui lensa multidimensi: realitas politik, keandalan struktur birokrasi, ketangguhan eksekusi, dan jangkar moral kemanusiaan.

Kekuatan Sunyi Birokrasi


Dalam menavigasi krisis, politik praktis menuntut stabilitas, ketegasan strategis, termasuk kelihaian dalam membaca momentum. Pemikir klasik Niccolo Machiavelli, dalam The Prince memberikan pijakan realis bahwa kekuasaan memerlukan adaptabilitas tinggi, serta ketegasan pragmatis untuk menjinakkan ketidakpastian atau fortuna.

Tetapi, manuver politik tingkat tinggi akan kehilangan pijakan energi, jika tidak ditopang fondasi tata kelola riil. Di sinilah Michael Lewis (2018) melalui Who is Government? menemukan relevansi. Berdasarkan Lewis, perlu demistifikasi institusi, dengan menunjukkan bahwa esensi sejati pemerintahan bukanlah kebisingan intrik politik di permukaan, melainkan ekosistem pelayanan publik yang bekerja dalam sunyi.

Dengan begitu, esensi pelayanan publik terletak pada birokrat profesional, ilmuwan, teknokrat, dan pengumpul data di balik layar untuk mengelola risiko publik, mulai dari manajemen krisis, regulasi kesehatan, perlindungan sosial terdistribusi secara administrasi dan operasional.

Harmoni antara arah kebijakan strategis, dan keandalan sistem administrasi yang kokoh merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas sebuah bangsa.

Menembus Inersia

Regulasi yang ideal dan komprehensif, sering mandek di tataran implementasi akibat penyakit kronis, berupa inersia kelembagaan serta ketakutan aparatur mengambil risiko. Problemnya, situasi aktual bergerak cepat, sementara pola kerja dalam merespon hal tersebut hanya sekadar bermain aman, atau menggugurkan kewajiban formal.

Di titik krusial itu, pendekatan Tim S. Grover dalam Relentless (2013) memberikan kontribusi konseptual yang segar. Di mana Grover membagi tipologi eksekutor menjadi: (i) coolers, yang menjalankan perintah dan menghindar saat tekanan memuncak, (ii) closers, mampu berkinerja hebat di situasi yang familiar, rentan terintervensi variabel emosi eksternal, (iii) cleaners, figur tak terhentikan (unstoppable), bergerak dengan insting terlatih, memiliki ketangguhan mental, serta berfokus pada hasil akhir tanpa memedulikan tepuk tangan atau pengakuan instan.

Ruang publik kontemporer, membutuhkan transformasi mentalitas cleaners. Para eksekutor kebijakan, perlu memiliki ketangguhan, responsif terhadap krisis harian, dan berani menembus batas prosedural yang kaku, demi menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Bukan berkutat pada persoalan citra, dan ilusi semu popularitas demi elektabilitas.

Jangkar Empati

Kendati demikian, akselerasi pembangunan, efisiensi administrasi, dan ketangguhan eksekusi yang agresif berpotensi melahirkan sistem yang mekanistik jika berjalan tanpa kompas moral. Ketika peradaban mendewakan rasionalisme dan logika materi, rentan terperosok dalam alienasi sosial.

Fyodor Dostoyevsky melalui The Dream of a Ridiculous Man memberikan peringatan mendalam mengenai bahaya nihilisme. Kebahagiaan kolektif dan keteraturan sosial, tidak pernah tercapai dengan memperketat regulasi formal, atau mengandalkan perangkat sains, melainkan menghidupkan kembali hukum organik dan empati antarsesama.

Setiap kebijakan publik, reformasi hukum, maupun tata kelola kelembagaan harus senantiasa berjangkar pada kesadaran humanis: keberanian peduli dan berpihak pada entitas publik yang paling rentan, demi mewujudkan keadilan substantif.

Pemulihan kepercayaan publik terhadap institusi tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan ketegasan taktis menjaga ketertiban umum, komitmen profesionalitas dari sistem pelayanan publik, dengan ketangguhan mental mengeksekusi solusi presisi, serta memerlukan ketulusan empati sebagai landasan moral setiap kebijakan.

Di masa mendatang, wajah kekuasaan dan birokrasi tidak lagi tampil sebagai entitas yang berjarak, melainkan hadir sebagai pelindung sekaligus pelayan sejati bagi warga negara.

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya