Berita

Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fatimah Azzahra. (Foto: Istimewa)

Publika

Ketika Fatimah 'Lahir Kembali' di Kampus UI

RABU, 01 JULI 2026 | 05:11 WIB

DI Indonesia hari ini, sebuah nama kembali menjadi sorotan. Fatimah Azzahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).

Fatimah muncul sebagai wajah baru gerakan mahasiswa. Cerdas, vokal, berani, namun tetap mengedepankan data dan akal sehat. 

Kehadirannya terasa seperti oase di tengah kekosongan tokoh perempuan muda yang berani bicara di ruang publik.


Banyak yang bertanya-tanya, "Mengapa dia bisa seperti itu?" Jawabannya mungkin sudah dititipkan 20 tahun lalu, saat sepasang orangtua membisikkan doa di telinga bayi perempuannya, "Kami namai engkau Fatimah Azzahra." 

Dalam Islam, nama adalah doa pertama orangtua untuk anaknya. Dan nama Fatimah adalah doa dengan standar setinggi langit.

1400 tahun lalu, nama itu disandang oleh putri Rasulullaah, Fatimah binti Rasulullaah Radhiyallahu 'anha. Beliau bukan hanya putri seorang Nabi. Sejarah mencatatnya sebagai perempuan yang komplet:

1. Cerdas secara intelektual - Khutbah Fadak-nya adalah mahakarya retorika hukum dan sastra. Di usia muda, beliau berani berargumen di Masjid Nabawi di hadapan khalifah.

2. Kuat secara mental - Hidup dalam zuhud ekstrem. Tangannya melepuh menggiling gandum, pundaknya membekas menimba air. Namun tak pernah satu keluh keluar dari lisannya.

3. Lembut secara emosional - Digelari Ummu Abiha, "Ibu bagi Ayahnya". Beliau yang merawat Rasulullaah dengan kasih sayang tak terbatas. Rasulullah sendiri bersabda: 

Dari Al-Miswar bin Makhramah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda di atas mimbar: “Sesungguhnya Bani Hisyam bin Al-Mughirah meminta izin kepadaku agar mereka menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Maka aku tidak mengizinkan, sekali lagi aku tidak mengizinkan, sekali lagi aku tidak mengizinkan, kecuali jika putra Abu Thalib ingin menceraikan putriku lalu menikahi putri mereka. Karena sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari diriku, apa yang membuatnya ragu/resah, membuatku resah, dan apa yang menyakitinya, menyakitiku.”

Memberi nama Fatimah kepada seorang anak perempuan, artinya orangtua sedang bermunajat: "Yaa Allah, jadikan anakku secerdas ini, seteguh ini, selembut ini."

Ketika Doa Menemukan Wadahnya

Doa orangtua itu mustajab. Apalagi doa untuk anaknya. Dan hari ini, kita melihat salah satu ijabah dari doa itu. Sosok Fatimah Azzahra di BEM UI bukanlah "Fatimah binti Rasulullah yang terlahir kembali". Itu mustahil. Namun dia adalah bukti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam nama itu masih hidup dan relevan.

Kecerdasan yang tidak jumawa. Keberanian yang tidak serampangan. Vokal yang didasari fakta, data, dan akal sehat. Bukan marah-marah tanpa arah. Itulah karakter yang bercahaya. Cahayanya menerangi, bukan membakar. Kehadirannya penting. 

Di tengah ruang publik yang sering gaduh oleh suara yang lantang tapi kosong, Indonesia butuh lebih banyak perempuan muda yang berani bicara karena tahu apa yang dibicarakan.

Untuk Setiap Orangtua yang Sedang Memberi Nama

Kisah dua Fatimah ini adalah pengingat. Nama adalah doa. Doa adalah energi. Dan energi itu akan mencari jalannya sendiri. 

Mungkin anak kita tidak akan jadi Wakil Ketua BEM UI. Mungkin juga tidak akan berpidato di masjid sebesar Nabawi. Tapi setiap orangtua pasti berharap satu hal: semoga anak gadisnya tumbuh menjadi perempuan yang cerdas otaknya, lembut hatinya, dan kuat jiwanya.

Semoga setiap "Fatimah" di Indonesia, baik yang bernama sama maupun tidak, bisa menjadi cahaya di lingkungannya masing-masing. Karena bangsa yang besar tidak lahir dari satu pahlawan, tapi dari ribuan doa orangtua yang mustajab.

Ratna Yunita
Mantan Jurnalis/Aktivis Media Sosial

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya