Berita

Tim Hukum Merah Putih (THMP). (Foto: istimewa)

Politik

THMP Bantah Jadi Penyusup di Sidang Praperadilan Roy Suryo

SELASA, 30 JUNI 2026 | 17:03 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Tim Hukum Merah Putih (THMP) membantah tudingan bahwa kehadirannya dalam sidang praperadilan yang diajukan Roy Suryo dengan nomor perkara 99/Pid.Pra/2026/PN JAK SEL di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai penyusup. THMP menegaskan kehadirannya memiliki dasar hukum berupa surat kuasa dari salah satu pelapor, Maret Sueken, yang diterbitkan pada 23 Juni 2026.

"Surat kuasa tersebut dibuat karena dalam Prapid Roy Suryo terdapat nama Maret Sueken yang ditarik sebagai turut Termohon. Sehingga atas dasar itu kami telah bersepakat untuk menghandiri sidang Praperadilan dimaksud," kata koordinator THMP, C Suhadi didampingi M Eddy Ghazali dan M Kunang di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.

THMP menegaskan kehadirannya dalam persidangan memiliki dasar hukum yang jelas. Selain berkedudukan sebagai turut termohon, nama kliennya juga disebut dalam permohonan praperadilan, tepatnya pada halaman 10, sebagai salah satu pihak pelapor berdasarkan Pasal 160 KUHP lama yang oleh pemohon dikategorikan melakukan perbuatan melawan hukum.


"Jelas klien kami berhak menjawab seluruh dalil permohonan yang ditujukan kepada klien kami, termasuk tuduhan yang menyatakan klien kami melakukan perbuatan melawan hukum," ujarnya.

Dia juga membantah tudingan kehadiran di persidangan sebagai penyusup. Menurutnya, sebelum sidang memasuki agenda pembacaan permohonan, pihaknya terlebih dahulu mengajukan interupsi kepada majelis hakim. Setelah itu, Hakim Tunggal memberikan izin kepada Hendra, kuasa hukum dari Kantor JPKP, untuk maju mewakili pihak terkait.

"Di depan sidang kami jelaskan, kedudukan kami sebagai kuasa dari Pelapor yang ditarik sebagai turut Termohon Praperadilan. Karena selain terdapat Termohon juga ada Turut Termohon," jelasnya.

Hakim Tunggal sempat menyarankan agar pihaknya tidak turut menjadi pihak dalam agenda persidangan dan hanya mengikuti jalannya sidang. Pihaknya lantas mempertanyakan alasan tersebut lantaran nama kliennya dicantumkan sebagai turut termohon dalam permohonan praperadilan.

"Kalau memang tidak diikutkan kenapa harus ditulis selaku Turut Termohon Prapid. Sekali lagi yang mulia tidak memberi jawaban jelas, kecuali memberi saran agar Kami mengikuti jalannya sidang saja, bukan menjadi pihak. Dan tentunya dalam menjaga martabat pengadilan saya tidak melanjutkan debat. Karena jalannya persidangan menjadi hal pokok utama dalam menyelesaikan masalah," bebernya. 

THMP mengaku kecewa karena materi permohonan praperadilan tetap menarik kliennya sebagai pihak. Padahal, menurutnya, berdasarkan hukum acara, pihak yang dapat dijadikan termohon dalam praperadilan hanya penyidik dan jaksa penuntut umum.

Ia menegaskan, tindakan upaya paksa seperti penggeledahan, penangkapan, maupun penahanan sepenuhnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab penyidik dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, sehingga tidak memiliki keterkaitan dengan pelapor.

Suhadi dan timnya juga menilai permohonan praperadilan yang diajukan pemohon mencampuradukkan persoalan hukum. Menurut mereka, pemohon memasukkan dalil bahwa para pelapor telah melakukan perbuatan melawan hukum (PMH), padahal perkara yang sedang diperiksa merupakan praperadilan yang menguji sah atau tidaknya tindakan penangkapan, penggeledahan, dan penahanan.

Selain itu, ia menilai permohonan tersebut juga tidak sesuai dengan ketentuan hukum acara karena menarik sejumlah pihak yang dinilai tidak memiliki kedudukan hukum dalam perkara praperadilan, termasuk Presiden RI.

Menurut Suhadi, dalam hukum acara praperadilan, pihak yang dapat dijadikan termohon pada dasarnya adalah penyidik atau penuntut umum beserta atasannya. Sementara Presiden RI tidak memiliki kapasitas sebagai penyidik, atasan penyidik, penuntut umum, maupun atasan penuntut umum, sehingga tidak semestinya dicantumkan sebagai pihak dalam permohonan tersebut.

"Presiden adalah Kepala Negara yang tidak masuk dalam wilayah Prapid. Hal ini jelas telah menyalahi hukum acara terkait pihak-pihak yang ditarik dalam Prapid," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya