Ilustrasi
Ilustrasi
PERNAHKAN kita melihat sebuah brand ikut menjadi sasaran kritik hanya karena influencer yang bekerja sama dengannya tersandung kontroversi? Fenomena seperti ini semakin sering terjadi di era digital. Ketika nama seorang influencer menjadi perbincangan publik, perhatian tidak hanya tertuju pada sosok tersebut, tetapi juga pada brand yang memilih berkolaborasi dengannya.
Di satu sisi, kolaborasi dengan influencer menjadi strategi yang efektif untuk membangun kedekatan dengan konsumen. Namun di sisi lain, kerja sama tersebut juga menghadirkan risiko baru. Kontroversi yang melibatkan influencer dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis reputasi bagi perusahaan, terutama ketika respons brand dinilai kurang tepat oleh publik.
Jika dilihat dari perspektif Situational Crisis Communication Theory (SCCT), cara perusahaan merespons sebuah krisis akan memengaruhi bagaimana publik menilai tanggung jawab dan reputasi sebuah brand. Di tengah semakin maraknya kolaborasi dengan influencer, komunikasi krisis tidak lagi hanya berkaitan dengan produk atau layanan, tetapi juga dengan bagaimana perusahaan mengelola risiko yang muncul dari pihak ketiga.
Ketika Influencer Menjadi Wajah Brand
Kolaborasi dengan influencer kini bukan lagi sekadar strategi pemasaran, tetapi telah menjadi bagian dari cara perusahaan membangun citra dan kedekatan dengan konsumennya. Melalui media sosial, influencer mampu menyampaikan pesan yang terasa lebih personal sehingga kehadirannya sering kali dianggap mewakili nilai dan identitas sebuah brand. Tidak mengherankan jika banyak perusahaan berlomba-lomba menggandeng influencer untuk memperkuat posisi merek mereka di tengah persaingan digital.
Namun, di balik peluang tersebut tersimpan risiko yang tidak kecil. Ketika seorang influencer terlibat dalam kontroversi, perhatian publik tidak hanya tertuju pada sosok tersebut, tetapi juga kepada brand yang pernah atau sedang bekerja sama dengannya. Dalam hitungan jam, media sosial dapat menghubungkan nama influencer dengan perusahaan sehingga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kredibilitas dan keputusan brand dalam memilih mitra kolaborasi.
Fenomena tersebut terlihat pada kontroversi yang melibatkan influencer Giorgio Antonio yang sempat bekerja sama dengan Nescafé. Ketika namanya menjadi sorotan publik, perhatian warganet tidak hanya tertuju pada kontroversi yang terjadi, tetapi juga ikut menyeret nama brand yang pernah berkolaborasi dengannya. Terlepas dari apakah perusahaan memiliki keterlibatan langsung atau tidak, situasi ini menunjukkan bahwa reputasi sebuah brand dapat ikut terdampak oleh krisis yang berasal dari pihak ketiga. Hal inilah yang menjadikan kolaborasi dengan influencer tidak lagi hanya berbicara tentang promosi, tetapi juga tentang kesiapan perusahaan menghadapi risiko komunikasi yang mungkin muncul sewaktu-waktu.
Tidak sedikit warganet kemudian beralih ke akun Instagram Nescafé untuk mempertanyakan kolaborasi tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian publik tidak lagi berhenti pada sosok influencer, tetapi juga meluas kepada brand yang pernah bekerja sama dengannya. Berbagai komentar yang muncul memperlihatkan bagaimana persepsi publik dapat bergeser dari individu menuju perusahaan dalam waktu yang relatif singkat.
Siapkah Brand Menghadapi Krisis?
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di era digital, perusahaan tidak lagi hanya bertanggung jawab atas produk atau layanan yang ditawarkan, tetapi juga harus siap menghadapi risiko reputasi yang muncul dari pihak ketiga. Lalu, apakah setiap kontroversi yang melibatkan influencer harus direspons dengan cara yang sama oleh setiap brand? Tentu tidak. Setiap krisis memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan strategi komunikasi yang berbeda pula. Di sinilah Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dapat membantu menjelaskan mengapa respons setiap perusahaan tidak selalu sama.
Dalam perspektif SCCT, cara perusahaan merespons sebuah krisis akan memengaruhi bagaimana publik memberikan penilaian terhadap tanggung jawab perusahaan. Ketika sebuah brand dianggap memiliki keterkaitan dengan kontroversi yang melibatkan influencer, respons yang cepat, terbuka, dan sesuai dengan situasi dapat membantu menjaga kepercayaan publik. Sebaliknya, respons yang terlambat atau kurang tepat berpotensi memperpanjang perbincangan negatif dan memengaruhi reputasi merek.
Karena itu, kolaborasi dengan influencer seharusnya tidak hanya dipandang sebagai strategi pemasaran, tetapi juga sebagai bagian dari manajemen risiko komunikasi. Sebelum menjalin kerja sama, perusahaan perlu mempertimbangkan rekam jejak influencer, menyiapkan skenario komunikasi jika terjadi krisis, serta memiliki pedoman yang jelas mengenai langkah yang akan diambil ketika muncul kontroversi. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya siap membangun citra merek, tetapi juga siap melindunginya ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Menurut penulis, perusahaan seharusnya tidak hanya melakukan seleksi berdasarkan jumlah pengikut atau tingkat engagement influencer. Yang tidak kalah penting adalah melakukan penilaian terhadap rekam jejak, nilai, dan potensi risiko yang mungkin muncul di kemudian hari. Di era digital, reputasi dibangun dalam waktu yang lama, tetapi dapat dipertaruhkan hanya karena satu kolaborasi yang kurang tepat.
Di era digital, kolaborasi antara brand dan influencer memang menawarkan peluang besar untuk membangun kedekatan dengan konsumen. Namun, di balik peluang tersebut terdapat risiko reputasi yang tidak bisa diabaikan. Ketika influencer menjadi bagian dari identitas sebuah brand, setiap kontroversi yang muncul juga berpotensi memengaruhi cara publik memandang perusahaan.
Karena itu, komunikasi krisis tidak lagi hanya dibutuhkan ketika terjadi masalah pada produk atau layanan, tetapi juga ketika perusahaan menghadapi risiko yang berasal dari pihak ketiga, termasuk influencer. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh seberapa kreatif kampanye yang dibuat, tetapi juga oleh seberapa siap perusahaan menjaga kepercayaan publik ketika krisis datang.
Tantya Legystania
Penulis adalah Mahasiswa S2 Komunikasi Korporat Universitas Paramadina
Populer
Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22
Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08
Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26
Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32
Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30
Senin, 22 Juni 2026 | 15:05
Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47
UPDATE
Senin, 29 Juni 2026 | 12:22
Senin, 29 Juni 2026 | 12:07
Senin, 29 Juni 2026 | 12:01
Senin, 29 Juni 2026 | 11:54
Senin, 29 Juni 2026 | 11:32
Senin, 29 Juni 2026 | 11:15
Senin, 29 Juni 2026 | 11:13
Senin, 29 Juni 2026 | 11:07
Senin, 29 Juni 2026 | 10:57
Senin, 29 Juni 2026 | 10:52