Ilustrasi (Imagined by Babbe)
Harga Bitcoin turun 1,62 persen dalam 24 jam terakhir dan berada di level 62.866 Dolar AS, menurut data CoinMarketCap pada Selasa, 23 Juni 2026. Penurunan ini terutama dipicu oleh meningkatnya aksi penghindaran risiko (risk-off) di pasar global, terutama setelah saham-saham teknologi mengalami tekanan jual.
Saat ini, pergerakan Bitcoin memiliki korelasi yang cukup kuat dengan indeks saham S&P 500, mencapai sekitar 62 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin bergerak mengikuti sentimen pasar keuangan global, bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor internal industri kripto.
Tekanan terbesar datang dari pelemahan pasar saham Amerika Serikat dan Asia, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 1,3 persen, sementara indeks Kospi Korea Selatan merosot lebih dari 6 persen hari ini. Situasi ini mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Kondisi tersebut menandakan bahwa dalam jangka pendek Bitcoin diperdagangkan layaknya aset teknologi berisiko tinggi, bukan lagi dianggap sebagai aset lindung nilai yang terpisah dari gejolak pasar saham.
Di sisi lain, investor institusional juga terlihat semakin berhati-hati. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar dana bersih selama enam minggu berturut-turut, dengan total penarikan mencapai 227 juta Dolar AS pada pekan lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa investor besar masih cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin.
Secara teknikal, Bitcoin juga berada dalam posisi yang kurang menguntungkan setelah menembus ke bawah rata-rata pergerakan 30 hari dan 200 hari yang berada di kisaran 64.243-64.489 Dolar AS. Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 33,82 yang menunjukkan momentum masih bearish, meski belum memasuki area jenuh jual (oversold).
Untuk jangka pendek, pasar akan mencermati laporan keuangan perusahaan semikonduktor Micron yang dijadwalkan rilis pada 25 Juni. Jika hasilnya mengecewakan dan memicu pelemahan lebih lanjut pada saham teknologi, tekanan terhadap Bitcoin berpotensi semakin besar.
Level 63.000 Dolar AS menjadi area penopang (support) yang sangat penting. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, harga berpeluang menguji kembali area resistensi di kisaran US$64.389 hingga US$64.998. Namun, apabila menembus ke bawah US$63.000, harga berisiko turun menuju area 60.000-61.000 Dolar AS.
Selain itu, investor juga perlu mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada 2 Juli serta data inflasi atau Consumer Price Index (CPI) pada 14 Juli. Kedua data tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve) dan menentukan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Secara keseluruhan, prospek jangka pendek Bitcoin masih cenderung bearish. Untuk membalikkan tren penurunan, Bitcoin perlu kembali menembus dan bertahan di atas area 64.389-64.998 Dolar AS serta didukung oleh kembalinya arus dana masuk ke ETF Bitcoin.
Pertanyaan utama yang kini menjadi perhatian pasar adalah apakah Bitcoin mampu mempertahankan level 63.000 Dolar AS dalam 24 hingga 48 jam ke depan, atau justru akan kembali tertekan dan memicu gelombang penurunan yang lebih dalam.