Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Dolar Amerika Serikat di pasar uang New York menguat pada penutupan perdagangan Senin 22 Juni 2026, didorong sentimen positif pasar terhadap perkembangan awal pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, Poundsterling bergerak tidak stabil setelah muncul kabar pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,16 persen ke level 101. Sementara itu, euro melemah 0,36 persen ke posisi USD1,1427.
Dari sisi geopolitik, Washington disebut menangguhkan sanksi terhadap Iran selama 60 hari menyusul putaran awal negosiasi menuju kesepakatan damai. Di saat yang sama, laporan juga menunjukkan situasi yang lebih tenang di Lebanon setelah sebelumnya terjadi eskalasi yang sempat memicu ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Perkembangan ini turut menekan harga minyak dunia.
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde menyampaikan bahwa guncangan inflasi di kawasan Euro masih signifikan dan tidak dapat diabaikan. Namun, ia menilai kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan ekspektasi inflasi jangka panjang atau memicu efek lanjutan yang berbahaya.
Di Inggris, Poundsterling sempat jatuh ke level terendah sesi di 1,3175 Dolar AS setelah pengumuman pengunduran diri Keir Starmer dari jabatan Perdana Menteri. Namun mata uang tersebut kemudian berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08 persen di 1,3243 Dolar AS.
Langkah mundurnya Starmer memunculkan ketidakpastian politik baru di Inggris, dengan nama Andy Burnham disebut berpeluang menjadi kandidat kuat dari Partai Buruh untuk posisi perdana menteri berikutnya. Jika terjadi, Inggris dapat mencatatkan perdana menteri ketujuh dalam satu dekade terakhir.
Di pasar Asia, Yen Jepang kembali tertekan terhadap dolar AS. Mata uang tersebut melemah 0,14 persen ke 161,50 per Dolar, setelah sempat menyentuh 161,92 dan mendekati level terlemah dalam dua tahun terakhir. Jika menembus 161,96, Yen akan berada di posisi terendah sejak 1986.
Pelemahan Yen terjadi meski Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga, karena ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve justru meningkat dan memperkuat daya tarik Dolar AS.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk mengatasi pergerakan mata uang yang dianggap berlebihan. Pasar juga mencermati kemungkinan intervensi otoritas Jepang maupun respons dari Amerika Serikat.
Sejumlah lembaga keuangan besar, termasuk Deutsche Bank dan Bank of America Global Research, merevisi proyeksi kebijakan Federal Reserve dengan memasukkan peluang kenaikan suku bunga mulai September. Bank of America bahkan memperkirakan kenaikan 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember.