Berita

Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Politik

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

SENIN, 22 JUNI 2026 | 08:46 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi yang dijadwalkan mulai "turun gunung" ke Lampung pada Juni 2026 ini memicu beragam tafsir politik. Langkah tersebut dinilai bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan berpotensi dibaca sebagai upaya mempertahankan pengaruh politik setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.

Menurut Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, kemunculan kembali Jokowi di panggung politik berisiko menimbulkan pertanyaan publik mengenai tujuan sebenarnya dari aktivitas tersebut.

"Langkah Jokowi yang dijadwalkan turun gunung di Lampung sontak memantik tafsir politik yang beragam. Bagi sebagian kalangan, ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sinyal bahwa gairah politiknya belum benar-benar padam meski masa jabatan telah berakhir," kata Saiful kepada RMOL, Senin, 22 Juni 2026.


Menurutnya, publik wajar mempertanyakan alasan di balik langkah tersebut, terlebih dilakukan saat masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

"Publik pun mulai bertanya, untuk apa langkah ini dilakukan sekarang? Apakah ini bagian dari strategi besar yang belum sepenuhnya terbuka ke publik, atau justru menunjukkan bahwa bayang-bayang kekuasaan masih sulit dilepaskan?" ujarnya.

Saiful menilai manuver politik yang dilakukan mantan presiden berpotensi menimbulkan kesan kontras dengan kondisi masyarakat yang sedang fokus memenuhi kebutuhan dasar.

"Ketika mantan presiden yang telah menjabat dua periode kembali aktif secara politis, wajar jika publik melihatnya bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan upaya mempertahankan pengaruh. Ini yang kemudian memunculkan pertanyaan tajam apakah ini untuk kepentingan bangsa, atau ada agenda politik tertentu yang lebih personal?" katanya.

Ia juga menyoroti munculnya spekulasi yang mengaitkan langkah tersebut dengan posisi politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Banyak yang menduga bahwa langkah ini berkaitan dengan upaya memperkuat posisi politik keluarga. Dalam politik Indonesia yang masih kental dengan patronase, dukungan figur besar seperti Jokowi tentu memiliki daya dorong yang luar biasa," tuturnya.

Menurut Saiful, kondisi itu berpotensi memperkuat kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai praktik dinasti politik yang semakin menguat.

"Namun di sisi lain, hal ini juga bisa mempertegas kekhawatiran publik tentang praktik dinasti politik yang semakin menguat, sesuatu yang sejak lama menjadi perdebatan di ruang publik," jelasnya.

Saiful juga menyinggung kemungkinan keterkaitan langkah tersebut dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya, jika Jokowi hanya menempati posisi dewan pembina, maka pengaruh politik yang dimiliki belum tentu dapat dimaksimalkan.

"Dalam logika politik praktis, posisi simbolik sering kali tidak cukup untuk menggerakkan mesin partai secara signifikan," katanya.

Karena itu, Saiful menilai langkah "turun gunung" tersebut berisiko memunculkan persepsi publik bahwa terdapat agenda politik yang belum dijelaskan secara terbuka.

"Publik tidak lagi mudah diyakinkan dengan narasi normatif. Mereka menuntut kejelasan arah dan tujuan. Tanpa itu, setiap langkah politik akan selalu dibaca sebagai bagian dari agenda tersembunyi, bukan pengabdian murni," ujarnya.

Lebih jauh, Saiful menegaskan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya citra pribadi Jokowi, melainkan juga etika politik pasca-kekuasaan di Indonesia.

"Seorang mantan presiden seharusnya mampu menunjukkan keteladanan dalam melepaskan kekuasaan secara elegan, bukan justru terus berada di orbitnya tanpa kejelasan peran. Jika tidak, maka publik akan terus mempertanyakan, ini tentang negara, atau sekadar perpanjangan pengaruh?" pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya