Berita

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin, 29 September 2025. (Foto: Puspen TNI)

Politik

Militerisasi Menguat, Indonesia Dinilai Bergerak ke Arah Otoritarianisme

JUMAT, 19 JUNI 2026 | 10:09 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Indonesia dinilai tengah menghadapi gejala menguatnya otoritarianisme dan militerisasi dalam tata kelola pemerintahan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat dinilai perlu mengawal demokrasi agar tidak bergeser dari semangat Reformasi 1998.

Direktur Eksekutif Institute Marhaenisme 27, Deodatus Sunda Se, menilai masuknya elemen-elemen militeristik dan menguatnya sentralisasi kekuasaan ke dalam struktur pemerintahan sipil merupakan langkah mundur yang berpotensi menggerus konstitusi serta kebebasan sipil.

Pria yang akrab disapa Dendy itu mengatakan, gejala tersebut bukanlah fenomena baru. Menurutnya, pola tersebut telah berkembang sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan dinilai semakin menguat pada era Presiden Prabowo Subianto.


"Kita sebenarnya sudah tidak heran melihat gejala otoritarianisme dan militerisasi ini karena yang memimpin sekarang kan menantunya Soeharto," ujarnya kepada wartawan, dikutip Jumat 19 Juni 2026. 

Dendy berpandangan, apabila pendekatan keamanan dan romantisme politik Orde Baru kembali dihidupkan, maka hukum berpotensi bergeser dari instrumen keadilan menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Ia juga menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilainya mencerminkan pola militeristik. Beberapa di antaranya adalah model retret kabinet, penempatan perwira aktif maupun purnawirawan di jabatan sipil, hingga menguatnya pendekatan keamanan nasional dalam berbagai kebijakan publik.

Menurut Dendy, sejumlah sektor yang seharusnya menjadi ranah institusi sipil, seperti ketahanan pangan, transisi energi, dan distribusi bantuan sosial, kini semakin banyak melibatkan aparat militer.

"Koperasi Merah Putih, terus 3.000 rumah, ini kan program populisnya Prabowo sama MBG. Nah, ini banyak keterlibatan TNI di dalamnya," katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan unsur militer juga terlihat pada sejumlah program strategis lainnya.

"Beberapa program lain juga banyak eksekutornya tentara. Misalnya kalau Agrinas itu komisaris utamanya purnawirawan bintang tiga dan kita tahu Agrinas ini sangat sentral perannya," sambung Dendy.

Dendy menilai pemerintahan saat ini tengah memperkuat hegemoni melalui pemanfaatan instrumen negara, khususnya militer. Alih-alih memperkuat reformasi birokrasi yang bercorak sipil dan demokratis, kebijakan pemerintah dinilai justru membuka ruang yang lebih besar bagi budaya komando dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Atas dasar itu, ia menegaskan pihaknya akan terus mengawal jalannya demokrasi agar tetap berada dalam koridor konstitusi.

"Ya, tidak ada cara lain. Kita akan tetap melawan agar Indonesia tetap di rel konstitusi. Mau tidak mau, kita tetap harus berhimpun, bergerak, dan terus mengorganisir rakyat," tandasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya