Berita

Ilustrasi

Bisnis

Ekspor Satu Pintu Lewat DSI Bisa Tutup Kebocoran dan Tambah Penerimaan Negara

KAMIS, 18 JUNI 2026 | 12:49 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana menjadikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai instrumen utama negara dalam mengelola ekspor sumber daya alam melalui sistem satu pintu dinilai sebagai langkah strategis untuk menutup kebocoran dan meningkatkan penerimaan negara.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pembentukan DSI tidak lepas dari masih maraknya praktik ekspor ilegal yang selama ini merugikan negara. Padahal, pemerintah sebelumnya telah membentuk berbagai bursa komoditas, mulai dari bursa CPO hingga batu bara melalui Kementerian Perdagangan.

"Ekspor satu pintu melalui bursa juga sudah pernah dilakukan, namun masih banyak terjadi ekspor ilegal," kata Ibrahim di Kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis, 18 Juni 2026.


Gagasan ekspor satu pintu sebenarnya bukan hal baru. Wacana tersebut telah dibahas sejak era Presiden Joko Widodo dan berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Namun, belakangan konsep itu kembali menguat setelah Presiden Prabowo secara terbuka menyinggung pengelolaan ekspor satu pintu melalui DSI Danantara. Ia menilai kebijakan tersebut sejalan dengan praktik yang diterapkan di banyak negara maju maupun berkembang.

"Di negara-negara Eropa, ASEAN, Asia, hingga Amerika Latin, sistem satu pintu dalam pengelolaan ekspor merupakan hal yang umum dilakukan," ujarnya.

Ibrahim meyakini penerapan sistem ekspor satu pintu akan mempersempit ruang gerak pihak-pihak yang selama ini memanfaatkan celah tata niaga ekspor untuk kepentingan tertentu.

Dengan mekanisme yang lebih terpusat, pemerintah dinilai dapat mengoptimalkan penerimaan negara, terutama dari sektor pajak ekspor yang nilainya sangat besar.

Menurutnya, selama ini masih terdapat berbagai kejanggalan dalam tata niaga sejumlah komoditas strategis. Salah satunya pada komoditas minyak sawit mentah (CPO), di mana Indonesia merupakan produsen terbesar dunia namun kerap menghadapi persoalan pasokan di dalam negeri.

"Indonesia merupakan salah satu penghasil CPO terbesar di dunia, tetapi kadang barangnya sulit ditemukan di pasar. Ini menunjukkan ada persoalan yang perlu dibenahi dalam tata kelola ekspor dan distribusi," jelasnya.

Ia menambahkan, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan tidak ada lagi praktik penggelembungan data maupun ekspor ilegal sehingga volume ekspor nasional dapat tercatat secara akurat.

"Selama ini laporan ekspor sering simpang siur. Ada laporan yang benar, ada juga yang tidak sesuai kondisi sebenarnya," katanya.

Ibrahim juga menyinggung sejumlah kasus ekspor ilegal yang belakangan terungkap dan ditangani aparat penegak hukum. Menurutnya, kasus-kasus tersebut menjadi alasan kuat perlunya reformasi tata kelola ekspor nasional.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya