Berita

Diskusi kebangsaan di Auditorium Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Publika

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

KAMIS, 18 JUNI 2026 | 06:00 WIB

BEBERAPA hari ini mahasiswa kembali turun ke jalan. Ada yang berteriak sampai urat lehernya menonjol seperti kabel fiber optik. 

Ada membawa spanduk. Ada membakar ban. Ada mengusir pejabat. Bahkan tiga menteri di Yogyakarta dikabarkan harus pulang lebih cepat karena dialog yang direncanakan berubah menjadi penolakan terbuka.

Lalu terjadilah keajaiban yang mungkin tidak mampu dijelaskan para ilmuwan dari ribuan laboratorium di dunia.


Tiba-tiba negeri ini ramai bicara adab. Mendadak semua orang menjadi profesor kesopanan. Timeline berubah menjadi ruang kuliah etika. Orang-orang yang selama ini lebih senyap dari modem tanpa sinyal mendadak muncul dengan wajah penuh kebijaksanaan.

"Mahasiswa harus sopan."

"Mahasiswa harus santun."

"Mahasiswa harus menghormati pejabat."

Indah sekali.

Sampai-sampai saya hampir menitikkan air mata melihat gelombang cinta terhadap adab yang begitu dahsyat.

Yang aneh, adab ini rupanya makhluk langka yang memiliki pola migrasi unik. Ketika korupsi meledak, dia menghilang. Ketika uang rakyat lenyap seperti pesulap menghilangkan gajah, dia menghilang.

Ketika pejabat hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat menghitung koin untuk membeli beras, dia menghilang. 

Ketika hukum tampak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, dia menghilang. Ketika jabatan diperlakukan seperti warisan keluarga kerajaan abad pertengahan, dia juga menghilang.

Tetapi begitu mahasiswa berteriak di jalan, adab muncul dari persembunyian. Sehat walafiat. Segar bugar. Bahkan lebih aktif dari buzzer yang baru menerima transferan. Tiba-tiba semua sibuk mengoreksi cara mahasiswa marah.

Tak ada yang bertanya kenapa mereka marah. Tak ada yang tertarik membahas apa yang membuat mereka turun ke jalan.

Yang penting nadanya jangan tinggi. Yang penting jangan kasar. Yang penting jangan membuat pejabat tersinggung.

Padahal kalau dipikir-pikir, pejabat kita ini hebat sekali. Dihujani berita korupsi tidak tersinggung. Dihujani kritik soal kemiskinan tidak tersinggung. Dihujani keluhan soal ketidakadilan tidak tersinggung.

Tetapi mahasiswa berteriak sedikit lebih keras, langsung banyak yang khawatir perasaan pejabat terluka.

Luar biasa.

Perasaan pejabat ternyata lebih dijaga dari uang rakyat. Seolah-olah masalah terbesar bangsa ini bukan korupsi yang merajalela. Bukan pencurian uang negara yang nilainya kadang membuat kalkulator masuk ICU.

Bukan pengkhianatan terhadap amanat rakyat. Bukan kebijakan yang membebani masyarakat. Melainkan mahasiswa yang dianggap kurang sopan saat menyampaikan kemarahan.

Kalau begitu, mungkin ke depan demonstrasi harus diubah formatnya. Mahasiswa wajib memakai jas. Membawa bunga mawar. Lalu berkata dengan suara selembut penyiar radio tengah malam.

"Permisi Bapak-Ibu yang terhormat. Mohon maaf mengganggu kenyamanan. Kami hanya ingin menyampaikan, negeri ini sedang sedikit bocor. Sedikit saja. Mungkin hanya sebesar Bendungan Jatiluhur. Kalau berkenan, korupsinya bisa dikurangi. Terima kasih."

Lalu semua bertepuk tangan. Koruptor menangis terharu.Uang negara kembali ke kas. Kemiskinan menghilang. Naga penjaga Gunung Semeru ikut mendaftar CPNS.

Masalahnya, adab bukan hanya soal cara berbicara. Adab juga soal amanah. Adab juga soal tidak berbohong kepada rakyat. Adab juga soal tidak menjadikan jabatan sebagai mesin pencetak kekayaan pribadi. Adab juga soal tidak menggarong masa depan jutaan orang demi kenyamanan segelintir elite.

Karena itu saya selalu heran melihat orang yang begitu marah kepada mahasiswa mengusir pejabat, tetapi jauh lebih tenang menghadapi mereka mengusir keadilan, mengusir kejujuran, dan mengusir harapan rakyat dari negeri ini.

Tiba-tiba semua bicara adab. Bagus. Memang sudah seharusnya kita bicara adab. Tetapi jangan adab yang hanya muncul untuk melindungi telinga penguasa dari suara rakyat.

Bicaralah juga tentang adab para pemegang kekuasaan terhadap rakyat yang membayar gaji mereka. Sebab rakyat tidak sedang kekurangan nasihat tentang sopan santun.

Yang sedang langka adalah rasa malu setelah mengkhianati amanah.

"Bang, satu-satunya yang paling beradab itu di warkop. Semua happy, ngomong bebas dan lepas."

"Setuju, wak. Makanya saya sering ngajak nuan seruput Koptagul di warkop Jalan Merapi." Ups

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya