Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam acara Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa di Sentra Abiseka, Pekanbaru, Riau, Minggu, 14 Juni 2026. (Foto: Kementerian Sosial)
Salsabila (13), siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 3 Pekanbaru mempersembahkan karya Puisi, kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam acara Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa di Sentra Abiseka, Pekanbaru, Riau, Minggu, 14 Juni 2026.
Puisi yang dibacakan Salsa di hadapan Mensos berjudul 'Di Tepi Siak, Aku Bermimpi', dan mampu membuat para peserta dan tamu undangan berlinang air mata haru, karena narasinya menggambarkan perjalanan harapan anak dari keluarga sederhana di Pekanbaru.
Mata Gus Ipul serta para peserta open house tampak berkaca-kaca saat mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Salsabila.
"Salsabila, kamu tadi baca (puisi) luar biasa," puji Mensos yang kerap disapa Gus Ipul itu, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis Kementerian Sosial, dikutip Rabu, 17 Juni 2026.
Salsabila dan ibunya, Nurmaida pun sempat berdialog dengan Gus Ipul. Dalam kesempatan itu, Salsabila mengaku belajar membaca puisi secara otodidak dan sejak lama menyukai hal itu.
"Belajar sendiri, pak, di rumah. Dari dulu suka baca puisi," ujar Salsabila yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha.
Orangtua Salsabila, Nurmaida mengungkapkan bahwa anaknya semakin percaya diri sejak bersekolah di SRMP 3 Pekanbaru. Ia pun berterimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menggagas program Sekolah Rakyat bagi anak-anak kurang mampu.
"Saya sangat berterimakasih kepada Pak Prabowo, pada bapak (Menteri Sosial Saifullah Yusuf) sudah memberi waktu untuk anak saya (menimba) ilmu di sini. Mungkin kalau enggak di sini, anak saya mungkin enggak sekolah lagi, pak, karena kemarin terkendala sedikit dengan ekonomi," ungkap Nurmaida.
Berikut isi puisi yang Salsabila bacakan saat tampil pada acara open house Sekolah Rakyat Pekanbaru:
Aku anak Pekanbaru.
Hidup di rumah kecil.
Meski dapur kami sederhana,
tapi doa Emak selalu panjang.
Emak sering berkata,
“Sabarlah, Nak… pelan-pelan awak sampai juga.”
Di tepi Sungai Siak,
aku belajar dari air yang mengalir.
Yang tidak gaduh,
tapi terus berjalan.
Siak mengajarkan kepadaku:
anak kecil pun boleh punya tujuan jauh.
Dulu aku sering bertanya,
apakah sekolah punya pintu
untuk anak seperti aku?
Lalu datang Sekolah Rakyat.
Bukan hanya gedung.
Bukan hanya seragam.
Tapi tangan negara
yang membuka jalan masa depan.
Di sini aku belajar ilmu.
Aku belajar adab.
Aku belajar disiplin, hormat, dan cinta Indonesia.
Terima kasih, Presiden Prabowo Subianto.
Karena telah melihat kami,
anak-anak rakyat yang ingin tumbuh.
Kini, bila Emak bertanya,
“Nak, hendak jadi apa awak nanti?”
Aku akan menjawab dengan tegak:
Aku ingin berguna.
Untuk orang tua.
Untuk Indonesia.
Biarlah Sungai Siak menjadi saksi.
Dari rumah kecil yang dulu sunyi,
hari ini aku berdiri membawa janji:
Kami akan belajar, berjuang dan membuktikan,
bahwa anak rakyat juga bisa sampai jauh.