Berita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Akun X @IsraelPM_heb)

Dunia

Netanyahu Tegaskan Israel Akan Terus Lawan Iran

SELASA, 16 JUNI 2026 | 07:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan terus mencegah Iran memiliki senjata nuklir, meskipun Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan damai yang akan ditandatangani di Swiss pada Jumat mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam konferensi pers pada Senin, 16 Juni 2026, hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai dan tinggal menunggu proses penandatanganan resmi.

Netanyahu menegaskan bahwa menghentikan ambisi nuklir Iran merupakan misi terbesarnya selama memimpin Israel.


"Dengan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjadi Perdana Menteri Israel, hal itu tidak akan terjadi," kata Netanyahu, dikutip Selasa 16 Juni 2026.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan adanya perbedaan sikap antara Israel dan AS. Jika Washington sedang mendorong jalur diplomasi dengan Teheran, Israel menegaskan tidak terikat dengan perjanjian tersebut dan akan tetap mengambil langkah militer jika dianggap perlu.

Menurut Netanyahu, Israel bersama AS telah melancarkan operasi militer terbesar dalam sejarah negaranya. Ia mengklaim serangan itu berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran, pabrik rudal, infrastruktur militer, serta melumpuhkan sebagian besar kemampuan pertahanan Iran.

Ia juga menyebut sejumlah ilmuwan nuklir Iran dan tokoh penting yang dianggap sebagai bagian dari kepemimpinan Iran telah dinetralisasi. Selain itu, Netanyahu mengklaim operasi tersebut menyebabkan kerugian ekonomi Iran hingga ratusan miliar dolar AS, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Netanyahu mengatakan tindakan itu dilakukan untuk mencegah ancaman yang menurutnya sudah berada di depan mata.

"Jika kami tidak bertindak pada saat yang tepat dan dengan kekuatan yang tepat, Iran mungkin sudah memiliki bom atom sekarang. Itu berarti jutaan warga Israel berada dalam bahaya kematian massal," ujarnya.

Pidato Netanyahu muncul di tengah perkembangan penting hubungan AS dan Iran. Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati rancangan perdamaian yang akan ditandatangani di Swiss.

Presiden Trump kemudian mengonfirmasi kabar tersebut melalui media sosial Truth Social dan akun resmi Gedung Putih.

"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," tulis Trump.

Berdasarkan informasi yang beredar, kesepakatan itu mencakup penghentian seluruh operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, pembebasan aset Iran senilai 25 miliar dolar AS yang sebelumnya dibekukan, serta komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Iran juga disebut akan menghentikan pengayaan uranium dan perluasan fasilitas nuklir, sementara pembahasan lebih rinci mengenai program nuklir akan dilanjutkan dalam waktu 60 hari.

Namun, upaya perdamaian itu sempat terganggu oleh serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Minggu lalu. Serangan yang menyasar kelompok Hizbullah tersebut memicu kritik dari Iran dan bahkan mendapat sorotan dari Trump.

Trump menilai serangan itu seharusnya tidak terjadi ketika proses perdamaian antara Washington dan Teheran sudah berada di tahap akhir.

Di sisi lain, pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari kesepakatan AS-Iran. Perbedaan pandangan antara Netanyahu dan Trump disebut muncul terutama terkait desakan Washington agar Israel membatasi operasi militernya di Lebanon demi menjaga momentum perdamaian.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan perjuangan Israel belum berakhir. Ia meminta masyarakat tetap waspada terhadap ancaman Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menyatakan Israel akan terus memperkuat militernya, membangun aliansi baru, dan meningkatkan anggaran pertahanan sebesar 350 miliar Shekel.

"Bersama-sama kita akan terus berdiri teguh dan bersama-sama kita akan terus meraih kemenangan," kata Netanyahu.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya