Berita

Publika

Pelaut adalah Pemersatu Bangsa

MINGGU, 14 JUNI 2026 | 05:20 WIB

MENYEBUT Indonesia sebagai bangsa pelaut, haruslah menempatkan pelaut dan kapal Indonesia sebagai pemeran utama dari lakon sejarah itu sendiri bukan sebagai objek sejarah. Maka dari itu para ahli sejarah menggolongkan masa-masa keemasan pelaut nusantara menjadi 3 periode besar sebagai berikut;

1. The first archipelagic State (Negara Nusantara Pertama), Sriwijaya;
2. The second  archipelagic State (Negara Nusantara II), Majapahit
3. The third archipelagic State (Negara Nusantara III), Republik Indonesia setelah 1945.


Periode sejarah bangsa pelaut antara akhir kerajaan Majapahit (1478), kedatangan bangsa Portugis (1511), datangnya armada kapal Belanda (1596), sampai dengan berdirinya Republik Indonesia (1945) dicatat sebagai Sejarah Hitam bangsa. Hal ini dikarenakan tidak banyak perkembangan dunia maritim Nusantara di masa penjajah menguasai negeri ini sampai berakhirnya penjajahan Jepang  pada 17 Agustus 1945. 

Tapi ada masa di mana putra putri di kepulauan nusantara ini mengikrarkan SUMPAH PEMUDA pada tahun 1928, atau 17 tahun sebelum merdeka dimana salah satu isi ikrarnya adalah; Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Pertanyaannya, kok bisa berbahasa satu, padahal sampai hari inipun setiap daerah memiliki bahasa yang berbeda, apalagi di masa itu sebelum adanya alat komunikasi elektronik? Jawabannya adalah; Para Pelaut.

Pelautlah yang bisa berkomunikasi dengan penduduk yang ada di pulau-pulau berbeda karena sifat pekerjaan mereka sebagai trader. Sebelum dunia mengenal KAMUS, maka pelautlah kamus berjalan itu, mereka bertukar bahasa, bertukar komoditas, budaya, dan tidak sedikit yang akhirnya menetap di pulau lain jika mereka bertemu jodoh.

Catatan dan bukti sejarah mengenai kejayaan bangsa pelaut masa lalu banyak ditemukan di artefak, candi dan jejak peninggalan nenek moyang Indonesia sampai Madagaskar, Persia, India,  Asia Timur, Polinesia, dan Australia. Bahkan di  relief candi Borobudur, selain kapal bercadik, juga didapati peninggalan ilmu astronomis nenek moyang kita berupa pahatan rasi bintang Ursa Mayor dengan 7 buah bulatan yang menggambarkan bintang dan diapit oleh bulan sabit dan matahari. 

Dari mana mereka tahu rasi Ursa Mayor? karena rasi bintang ini hanya terlihat di lintang utara, sementara pulau jawa sendiri ada di lintang selatan. Inilah yang membuktikan bahwa mereka pernah pergi berlayar jauh ke pulau-pulau dan kerajaan di utara pada masa lalu.

Sayangnya pelaut di masa kini sangat berbeda dengan pelaut dimasa lalu, karena kondisi ekonomi dan perhatian pemerintah yang terlalu lama memunggungi laut. Dimasa sekarang pelaut banyak berjuang untuk sekedar kehidupan yang layak, gaji yang cukup serta hak-hak yang banyak terbelakang. Sejak dicanangkannya nawacita Presiden Jokowi yang tidak pernah terwujud, banyak anak muda berlomba-lomba menjadi pelaut dan sekolah pelayaran kebanjiran peminat baik di level akademi, SMK, sekolah negeri maupun swasta. 

Di situlah terjadi pergeseran kualitas berbanding kuantitas dan Indonesia mulai kebanjiran pelaut yang tidak sebanding dengan jumlah serta ukuran kapal Indonesia. Sialnya juga, mereka tidak difokuskan misalnya menjadi pelaut untuk bisa menembus pasar internasional sehingga mulailah kita melihat perwira lulusan akademi/politeknik/sekolah tinggi berebut kapal dengan adik-adiknya yang lulusan SMK.

Imbas dari semua ini adalah supply tidak berbanding lurus dengan demandnya, sehingga daya tawar pelaut relative lemah. Keberadaan serikat Pelaut tertua KPI juga dirasa kurang berimbas kepada sektor up grading kualifikasi pelaut sehingga kita menang jumlah, dibanding kualitas. Ada 4 aktor penentu tingginya kualitas pelaut sebuah negara;

1. Pelaut itu sendiri (hasil seleksi yang baik)
2. Institusi Pendidikan yang menerapkan aturan ketat
3. Serikat Pelaut dan Organisasi Kepelautan seperti ikatan almamater dan organisasi profesi.
4. Pembina pelaut di pemerintahan, cq; Ditkapel.

Penyanderaan pelaut di beberapa negara yang pernah terjadi dan masih terjadi sampai saat ini adalah salah satu buah dari kurang bekerjanya ke 4 pilar tersebut secara bersinergi. Pelaut kurang dibekali peluru untuk menjadi pahlawan devisa keluar negeri, sehingga banyak yang terlantar walaupun masih lebih banyak yang sukses pada level yang lebih tinggi.

Peringatan Hari Pelaut Sedunia yang akan jatuh pada tanggal 25 Juni 2026, semoga bisa menjadi pengingat bahwa dari 10 devisa penyumbang APBN yang angkanya ada diatas 100 triliun setahunnya selain Sawit, Batubara dan Pariwisata adalah para pahlawan devisa ini. Selain pelaut, semua industri tersebut membutuhkan investasi sangat besar, baik PMDN, PMA atau Joint Venture. Devisa yang dihasilkan pelaut bersifat sustain, tidak akan habis selama ke 4 pilar di atas bisa bekerja sama dengan baik. 

Pemerintah tidak perlu mengeluarkan apa-apa dari sekolahnya para penghasil devisa ini, semoga kedepannya mereka juga tidak dibebankan biaya besar lagi untuk menjadi pelaut yang berkualitas demi ikut membantu pemasukan negara. Majulah para pemersatu bangsa!

Capt. Zaenal Arifin Hasibuan
Praktisi maritim


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DJP Blokir Rekening 57 Penunggak Pajak, Nilainya Tembus Rp80 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:08

Rakernas Haji Bahas Dua PR Besar: Kesehatan Jemaah dan Layanan Mina

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:58

MUI: LGBT dan Koruptor Itu Pelanggar HAM Berat!

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:51

Komisi XIII DPR Dukung Prabowo Terbitkan Perpres Tata Kelola Koperasi Merah Putih

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:32

Kondisi Korban Penyekapan Mau Print Membaik, Namun Trauma Masih Membekas

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:13

Komisi XIII DPR Soroti Dugaan Tambang Tanpa AMDAL: Ini Negara Apa?

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:57

Harga Emas Antam Terbang Rp19.000 di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Rp2,67 Juta

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:35

IHSG Sepekan Melemah, Nilai Transaksi Anjlok Hampir 36 Persen

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:33

Skema Modal BPR Lebih Fleksibel, OJK Tegaskan Sanksi bagi Pelanggar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:57

Kapolda Metro Jaya Bentuk Tim Terpadu Tangani Kasus Penyekapan Karyawan Mau Print

Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:42

Selengkapnya