Berita

Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH), Abdul Razak Nasution. (Foto: Istimewa)

Politik

Elit Global Terganggu, PP HIMMAH Serukan Reformasi Pikiran dan Jaga Persatuan

SABTU, 13 JUNI 2026 | 16:41 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA

Kebijakan yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai mengganggu kepentingan kelompok oligarki dan elit global, yang seakan membuat Indonesia kini sedang diserang dengan tekanan dari luar serta upaya memecah belah dari dalam. 

Begitu dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH), Abdul Razak Nasution mengomentari beragam fenomena akhir-akhir ini. 

Oleh sebab itu, Razak meminta seluruh elemen bangsa terutama generasi muda dituntut lebih kritis dan cermat dalam menyaring arus informasi.


“Sebagai anak bangsa yang memiliki jiwa nasionalisme, kita harus pandai memilah mana fakta dan mana rekayasa narasi. Jangan mudah terprovokasi,” kata Razak dalam keterangan tertulis, Sabtu 13 Juni 2026.

Lebih mendalam, Razak menilai inti seluruh kebijakan demi mengembalikan kedaulatan bangsa sesuai amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. Sejauh ini ada empat program Pemerintah yang menjadi fokus: kedaulatan pangan, kedaulatan energi, hilirisasi, dan Program Makan Bergizi Gratis untuk kesejahteraan rakyat.

Razak menilai, oligarki gerah karena saat ini pengelolaan ekspor-impor secara terpadu melalui satu pintu di bawah PT Danantara Sumber Daya Indonesia.

"Ini ditujukan untuk menutup celah praktik merugikan negara seperti under-invoicing dan transfer pricing. Wajar jika para mafia ekspor-impor merasa tersinggung selama ini mereka leluasa memanfaatkan kekayaan alam kita demi keuntungan pribadi,” tegasnya.

Mengenai melemahnya nilai tukar Rupiah, Razak pun menilai penjelasan yang hanya menyebutkan faktor geopolitik atau kebijakan luar negeri belum mengungkap gambaran sesungguhnya.

Untuk itu, Razak secara tegas menghimbau seluruh jajaran Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, hingga Pimpinan Komisariat HIMMAH di seluruh Indonesia menjaga persatuan dan mereformasi pikiran agar tidak terjebak dalam narasi yang hanya berisi kecaman buta terhadap kebijakan pemerintah.

“Jika ada masukan atau kritik, sampaikanlah dengan cara yang arif dan membangun melalui dialog publik, diskusi ilmiah, atau menyusun usulan perbaikan yang nyata,” demikian Razak.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya