Berita

Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) Ahmad Jundi Khalifatullah. (Foto: Dok. KAMMI)

Nusantara

KAMMI:

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

SABTU, 13 JUNI 2026 | 05:52 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Narasi negatif atau kampanye yang membuat investor asing menjual aset-asetnya di Indonesia sengaja diembuskan oleh pihak asing dan para kaki tangannya yang merasa terganggu dengan ketegasan kebijakan ekonomi nasional.

"'Sell Indonesia' adalah narasi yang sama sekali tidak berdasar, manipulatif, dan mengada-ada," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) Ahmad Jundi Khalifatullah, dikutip Sabtu 13 Juni 2026.

Sebaliknya, kata Jundi, langkah-langkah ekonomi yang diambil pemerintah saat ini justru sedang memperkuat kedaulatan domestik dan memangkas ketergantungan pada jaringan kapitalisme global yang eksploitatif.


"Isu 'Sell Indonesia' itu narasi usang yang diputarbalikkan. Faktanya, kebijakan ekonomi kita saat ini -- mulai dari hilirisasi, penguatan energi domestik, hingga reformasi fiskal untuk mencapai target pertumbuhan tinggi -- justru membuat agen-agen ekonomi asing cemas karena mereka tidak bisa lagi mendikte Indonesia," kata Jundi.

PP KAMMI secara khusus menyoroti adanya indikasi ketakutan dari jejaring bisnis dan geopolitik yang terafiliasi dengan kepentingan Israel dan Singapura. 

Selama ini, Singapura kerap menjadi hub finansial bagi aliran modal yang tidak transparan, sementara agenda geopolitik Israel selalu terusik dengan sikap tegas Indonesia yang konsisten membela kemerdekaan Palestina dan menolak normalisasi hubungan diplomatik maupun ekonomi.

Menurut Jundi, kebijakan ekonomi RI yang kian mandiri, seperti optimalisasi sumber daya dalam negeri dan pengalihan ketergantungan dari pasar Barat ke kemitraan strategis yang setara, menjadi ancaman nyata bagi stabilitas bisnis para agen asing tersebut.

Jundi mengajak seluruh elemen bangsa untuk jeli melihat aktor di balik narasi pelemahan ini. Kekhawatiran pihak asing -- terutama hub finansial Singapura dan kepentingan zionis Israel -- muncul karena Indonesia semakin sulit disetir demi keuntungan oligarki global mereka.

"Sudah saatnya Indonesia berdiri tegak di kaki sendiri. Jika agen-agen asing itu cemas, artinya kebijakan ekonomi kita sudah berada di jalur yang benar untuk merebut kembali kedaulatan bangsa," pungkas Jundi.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya