Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate Ai)

Bisnis

Defisit APBN Diramal Tembus 3 Persen

Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 16:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.988 per Dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis 11 Juni 2026 sore.

Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda itu melemah 44 poin atau 0,25 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan ini dipicu sentimen negatif atas perkiraan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang memprediksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 Indonesia melebar hingga batas maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


"Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah. Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB," kata Ibrahim dalam risetnya.

Selain itu, kata Ibrahim, defisit tersebut juga lebih tinggi dari  realisasi defisit 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB.

Adapun, proyeksi OECD ini didasarkan pada beban subsidi energi yang diprediksi melonjak akibat tingginya harga minyak dunia, sementara pemerintah masih memutuskan untuk menahan harga BBM bersubsidi. Menurut organisasi tersebut, harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah defisit anggaran sekitar 0,6 persen PDB.

Tekanan ini juga muncul ketika pemerintah masih menjalankan sejumlah program prioritas, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan alokasi anggaran besar. 

Dalam laporan OECD Economic Outlook menyoroti pentingnya reformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran. OECD menilai bantuan langsung kepada kelompok masyarakat rentan akan lebih efektif dibandingkan mempertahankan subsidi harga energi secara luas yang membebani anggaran negara.

"Pemerintah telah menyatakan komitmennya menjaga defisit tetap di bawah batas fiskal 3 persen, yang mengharuskan adanya langkah kompensasi sekitar 0,3 persen PDB, termasuk pemangkasan belanja di sektor lain dan potensi windfall tax tak terduga pada ekspor komoditas," tulis OECD dalam laporan .

Dari sisi makro ekonomi, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 4,7 persen pada 2026 sebelum kembali meningkat ke level 5 persen pada 2027.

"Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja," kata Ibrahim.

Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan melonjak hingga 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi. 

Di sisi lain, Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Kamis. Iran menyatakan seluruh kapal tanker minyak dan kapal komersial dilarang melintas, serta memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melewati jalur tersebut akan menjadi sasaran tembakan.

Hal ini, menurut Ibrahim menambah tekanan terhadap Rupiah yang makin mendekat kembali ke level Rp18.000 per Dolar AS. Ia pun memprediksi Rupiah akan kembali tertekan pada perdagangan esok hari.

"Untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.980- Rp18.030," tandasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya