Berita

Lokakarya angkatan ketiga (Batch 3) ini digelar di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 9 Juni 2026. (Foto: Humas KKP)

Nusantara

Stok Sumber Daya Ikan Fondasi Utama Kebijakan Pemerintah

RABU, 10 JUNI 2026 | 03:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mematangkan implementasi kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT). 

Sebagai langkah nyata, KKP menggandeng kalangan akademisi melalui Lokakarya (Workshop) Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan guna memastikan keakuratan data sebagai fondasi utama tata kelola perikanan nasional.

Lokakarya angkatan ketiga (Batch 3) ini digelar di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan yang direncanakan berlangsung intensif selama tiga hari tersebut diikuti oleh 33 calon Scientific Service Provider (SSP). 


Para peserta merupakan akademisi dari berbagai perguruan tinggi bidang perikanan yang diusulkan langsung oleh Unit Pengelola Perikanan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (UPP WPPNRI) 573, 711, dan 712.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan (PSDI) KKP, Syahril Abd Raup, saat membuka acara menekankan urgensi ketersediaan data yang akurat di sektor kelautan dan perikanan.

"Ketersediaan data dan informasi terkait stok sumber daya ikan sangatlah penting. Data ini merupakan fondasi utama bagi pemerintah dalam menyusun dan menetapkan kebijakan sektor kelautan dan perikanan yang tepat sasaran," ungkap Syahril dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Selama kegiatan berlangsung, para akademisi dibekali materi komprehensif mengenai protokol perhitungan stok sumber daya ikan. Standar baku yang digunakan merujuk pada ketetapan Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan (Komnas KAJISKAN), dengan melibatkan narasumber ahli dari Komnas KAJISKAN dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pasca-kegiatan, para peserta ditargetkan memiliki kemampuan teknis dan analitis yang mumpuni. Mereka diharapkan mampu melakukan pengkajian stok ikan secara mandiri dan bersinergi di masing-masing WPPNRI.

Ketua Komnas KAJISKAN, Prof Indra Jaya, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya peran sains di garda terdepan pengelolaan sumber daya alam.

"Hasil penelitian ilmiah melalui metode pengkajian stok yang terstandar mutlak harus menjadi dasar utama dalam setiap pengambilan kebijakan pengelolaan perikanan di Indonesia," tegas Indra.

Upaya perbaikan tata kelola perikanan ini juga berjalan beriringan dengan program strategis KKP lainnya. Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Perlindungan Nelayan dan Awak Kapal Perikanan, Mohamad Abdi Suhufan, memaparkan keterkaitan antara pengkajian stok ikan dengan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

"Kebijakan pembangunan KNMP tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga terkait langsung dengan upaya perbaikan tata kelola perikanan. Ke depannya, sistem pendataan ikan akan semakin baik, karena di semua lokasi KNMP, seluruh hasil tangkapan nelayan akan terdata secara sistematis," jelas Abdi.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP juga kembali mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor guna mempercepat implementasi kebijakan PIT. Dalam kebijakan tersebut, penentuan status stok ikan dan penetapan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) menjadi aspek yang paling esensial.

Data JTB yang berbasis kajian ilmiah ini akan didistribusikan secara transparan menjadi kuota penangkapan ikan. Tujuannya adalah menciptakan iklim penangkapan ikan yang berkeadilan dan tetap menjaga batasan ekologis.

Melalui lokakarya yang didukung oleh Yayasan WWF Indonesia ini, KKP berharap kolaborasi antara pemerintah dan akademisi dapat terus terjalin kuat. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan kebijakan yang menjamin kelestarian ekologi laut sekaligus membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakat nelayan.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya