Berita

Bank Indonesia. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

BI-Rate Naik Mendadak, BI Kirim Sinyal Hawkish

SELASA, 09 JUNI 2026 | 14:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dinilai mencerminkan sikap kebijakan moneter yang semakin agresif atau hawkish di tengah meningkatnya tekanan global dan domestik.

Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rahman menilai, langkah BI kali ini tidak hanya sebatas menaikkan suku bunga. Bank sentral juga meluncurkan serangkaian instrumen pendukung untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.

"Kami melihat bahwa paket kebijakan terbaru menandakan sikap moneter yang lebih hawkish," kata Faisal dalam keterangannya pada Selasa, 9 Juni 2026.


Di luar kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 25bps, BI telah memperkenalkan serangkaian langkah komprehensif, termasuk imbal hasil SRBI yang lebih tinggi, biaya hedging yang lebih rendah, perluasan fasilitas likuiditas, dan intervensi valuta asing yang lebih intensif.

Menurut Faisal langkah ini dirancang BI untuk menstabilkan Rupiah, memulihkan kepercayaan investor, menarik masuknya modal asing, dan menjaga inflasi tetap terkendali di tengah lingkungan global yang semakin menantang.

Sebelumnya, keputusan BI menaikkan suku bunga itu dilakukan mendadak di tengah kurs rupiah yang terus melemah di atas Rp18.100 per dolar AS.

Keputusan ini juga menjadi yang kedua kalinya dalam waktu kurang dari satu bulan, setelah BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026. 

Selain itu, kenaikan kali ini juga dilakukan di luar jadwal rutin Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang biasanya digelar di minggu ketiga setiap bulan.

Sejalan dengan kenaikan BI-Rate, bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen dan Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen.

Faisal menilai peluang kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka hingga akhir tahun karena berbagai risiko yang membayangi perekonomian belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

"Karena ketidakpastian global dan domestik yang terus-menerus kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat, sehingga menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap stabilitas Rupiah," kata Faisal.

Dari sisi eksternal, Faisal menyoroti konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi global sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara maju.

"Akibatnya, ekspektasi pasar telah bergeser ke arah The Fed yang lebih agresif, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan pada Desember 2026 menunjukkan peningkatan," kata Faisal.

Sementara itu, tantangan dari dalam negeri juga dinilai masih besar. Kenaikan harga energi global berpotensi menekan inflasi, memperberat posisi fiskal pemerintah, hingga memperlebar defisit transaksi berjalan.

"Risiko-risiko ini dapat berkontribusi pada pelebaran defisit kembar," ungkap Faisal.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya