Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Nusantara

15 Juta Petani Sawit Terdampak, Pemerintah Tak Ingin Harga TBS Terus Turun

SELASA, 09 JUNI 2026 | 09:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah bergerak cepat merespons penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi di sejumlah daerah karena dinilai berpotensi merugikan jutaan petani. 

Berdasarkan data yang dibahas dalam rapat bersama pelaku industri sawit baru-baru ini, sekitar 15 juta petani menggantungkan penghasilan mereka pada stabilitas harga komoditas tersebut.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai penurunan harga yang terjadi saat ini tidak sesuai dengan kondisi pasar. Di tengah penguatan Dolar AS dan ekspor sawit yang tetap berjalan, harga TBS justru mengalami tekanan di tingkat petani.


Karena itu, pemerintah mengumpulkan asosiasi sawit, perwakilan petani, Satgas Pangan Polri, dan jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus dari berbagai daerah untuk mencari solusi. Hasilnya, seluruh pihak sepakat harga TBS harus segera dipulihkan dan tidak boleh terus mengalami penurunan.

Menurut Amran, kesejahteraan petani harus menjadi perhatian utama karena mereka merupakan pihak yang paling terdampak ketika harga TBS melemah. Pemerintah juga menargetkan pemulihan harga berlangsung secepat mungkin agar manfaat dari penguatan ekspor sawit dapat dirasakan hingga ke tingkat pekebun.

Laporan yang diterima Kementerian Pertanian menunjukkan sekitar 70 persen harga TBS mulai berangsur pulih. Pemerintah berharap proses pemulihan dapat mencapai 100 persen dalam waktu dekat melalui kerja sama seluruh pelaku usaha dan pemerintah daerah.

"Alhamdulillah tadi laporan sudah 70 persen berangsur-angsur pulih. Mulai hari ini harus kembali 100 persen dan bila perlu tambah 10 persen dari harga sebelumnya karena nilai dolar," ujar Amran di Jakarta, dikutip Selasa 9 Juni 2026..

Sementara, Kasatgas Pangan Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan adanya dugaan kartel dalam penetapan harga TBS di tingkat perusahaan. Dugaan tersebut muncul setelah ditemukan kondisi yang bertolak belakang antara harga TBS domestik dan perkembangan pasar global.

"Jadi kami menduga adanya indikasi kartel di sini atau persekongkolan jahat, persekongkolan diam-diam yang dilakukan untuk menyepakati harga TBS itu turun di saat harga CPO dunia tidak turun atau sedang cenderung naik," kata Ade .

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

SOFA Siapkan Rp131 Miliar untuk Proyek Sampah Jadi Energi

Sabtu, 19 September 2026 | 14:14

Menimbang Kembali POD South Andaman

Sabtu, 19 September 2026 | 13:46

Prabowo Teriak “Free Palestine” Tiga Kali, Singgung Indonesia Tak Berdaya Bantu Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 13:45

HUT ke-81 TNI di Monas, Prabowo Dijadwalkan Jadi Irup

Sabtu, 19 September 2026 | 13:27

Kejagung Turun Tangan Kawal Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,986 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 13:24

Saham BMW Anjlok 4,46 Persen

Sabtu, 19 September 2026 | 12:59

Ratusan Hotel di Bali Bangkrut Lalu Dilego

Sabtu, 19 September 2026 | 12:36

Penanaman Pohon Bukti Nyata Kontribusi Alumni Unpad

Sabtu, 19 September 2026 | 12:17

Pasar Minggu Bakal Disulap Jadi Kawasan Terintegrasi, Investasinya Rp1 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 12:13

Jarnas Prabowo-Gibran Minta Kebun Sawit Rakyat di Kawasan Hutan Tak Digusur

Sabtu, 19 September 2026 | 11:45

Selengkapnya