Berita

Ketua Umum Jaringan Relawan GIBRANKU, Ananta Agung Junaedy. (Foto: Istimewa)

Politik

Penguasaan AI Penting agar Indonesia Tak Tertinggal di Era Digital

SENIN, 08 JUNI 2026 | 15:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memunculkan dua respons berbeda di tengah masyarakat. Sebagian khawatir teknologi akan menggerus lapangan kerja, sementara lainnya menganggap AI hanya tren sesaat. 

Di tengah perdebatan tersebut, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka konsisten mengampanyekan pentingnya penguasaan AI dan coding sejak bangku sekolah sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.

Ketua Umum Jaringan Relawan GIBRANKU, Ananta Agung Junaedy, menilai dorongan kuat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap penguasaan AI tidak lepas dari perubahan besar dalam peta persaingan global. 


Menurutnya, ukuran kekuatan suatu negara saat ini tidak lagi semata ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam atau besarnya kapasitas industri, melainkan oleh kemampuan menguasai teknologi, mengelola data, dan menciptakan inovasi yang bernilai tinggi.

"Indonesia saat ini adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Tetapi selama ini, kita lebih sering bahkan selalu menjadi konsumen daripada produsen. Kita membeli aplikasi buatan luar negeri, menonton konten mereka, dan menyetor data kita ke server mereka," katanya, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, fokus Wapres Gibran terhadap AI merupakan langkah strategis untuk menyiapkan generasi muda menghadapi persaingan global yang semakin berbasis teknologi. 

Ia menilai penguasaan AI perlu dilakukan sejak dini agar anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah yang memiliki daya saing tinggi.

Ananta juga menilai gagasan memasukkan pelajaran coding dan pengenalan AI sejak sekolah dasar kerap disalahpahami. Menurutnya, tujuan utama kebijakan tersebut bukan untuk menjadikan anak-anak sebagai programmer sejak dini, melainkan membangun pola pikir kritis, logis, dan sistematis. 

Melalui pembelajaran coding, siswa dilatih untuk memecahkan masalah, menyusun solusi secara terstruktur, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang akan menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka di masa depan.

"Fokus Wapres pada AI harus dibaca sebagai upaya curi start. Gibran mendorong anak-anak muda kita menjadi pencipta nilai tambah yang memiliki daya saing tinggi, bukan jadi target jualan bangsa lain," jelasnya.

Menurut Ananta, visi AI yang didorong Wapres Gibran tidak hanya ditujukan bagi pelajar atau perusahaan besar, tetapi juga menyasar pelaku UMKM, santri, dan masyarakat di daerah. Ia menilai AI harus menjadi teknologi yang bisa dimanfaatkan semua kalangan untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan usaha, membaca kebutuhan pasar, dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Selain berdampak pada perekonomian, pemanfaatan AI juga diyakini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan publik. Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat layanan pemerintah lebih cepat, tepat, dan efisien, mulai dari administrasi hingga pengelolaan berbagai program publik.

Meski demikian, Ananta mengingatkan bahwa perkembangan AI harus dibarengi dengan penguatan etika dan regulasi. Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan aturan yang jelas agar teknologi tersebut tidak disalahgunakan untuk penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, maupun praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Karena itu, pendidikan teknologi harus berjalan seiring dengan pendidikan karakter dan literasi digital.

"Masa depan tidak akan menunggu kita siap atau tidak. Teknologi AI sudah ada di depan mata dan terus bergerak. Pilihan yang disodorkan oleh visi Wapres hari ini sangat jelas: kita harus berani memeluk perubahan ini dengan cerdas, membekali generasi muda terbiasa berpikir kritis, logis, sistematis, dan mahir mencari solusi saat menghadapi masalah (problem solving). Sehingga teknologi bekerja untuk kesejahteraan manusia, bukan menjajah kemanusiaan kita," pungkasnya.  
 


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Hadiri Penutupan Muktamar NU, Prabowo Dikalungi Sorban

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:17

Muktamar ke-35 NU: LAZISNU Bagikan Santunan Yatim dan Kacamata Gratis untuk Guru Ngaji

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:13

Tim Formatur PBNU Diberi Waktu Sebulan Susun Kepengurusan

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:07

Rupiah Lesu ke Rp17.754 per Dolar AS di Awal Pekan, Pasar Wait and See

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:57

Harga Emas Dunia Stabil Usai Anjlok Akibat Sinyal Suku Bunga The Fed

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:43

IHSG Pagi Tertekan, Tiga Saham Malah Melompat

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:28

Muslim Arbi Soroti Amandemen UUD 1945 dan Maraknya Politik Dinasti

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:14

Emas Antam Mandek di Rp2,6 Juta per Gram

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:56

Kapolri Mutasi Sejumlah Pejabat Strategis, Dua Kapolda Berganti

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:53

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih dari 3 Persen

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:38

Selengkapnya