Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. (Foto: Istimewa)

Politik

RI Perkuat Hubungan dengan Negara Pasifik Selatan untuk Redam Isu Papua

MINGGU, 07 JUNI 2026 | 05:05 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Dalam teori geopolitik modern, pengaruh suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tank, rudal, atau kapal perang, tetapi juga kemampuan membangun simpati dan kepercayaan masyarakat internasional.

Demikian pandangan pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah merespons keputusan pemerintah mengirim kembali armada TNI Angkatan Laut ke kawasan Pasifik dan Oseania melalui misi pelayaran muhibah (port visit) menggunakan KRI Wahidin Sudirohusodo-991. 

"Ada dimensi lain yang tidak kalah penting dari misi tersebut, yakni penguatan hubungan Indonesia dengan negara-negara Pasifik dalam konteks isu Papua," kata Amir, dikutip Minggu 7 Juni 2026.


Selama bertahun-tahun, sejumlah kelompok yang mendukung gerakan separatis Papua berupaya mencari dukungan politik dari negara-negara Pasifik Selatan.

Karena itu, hubungan yang erat antara Indonesia dengan negara-negara kawasan tersebut memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.

“Indonesia harus hadir secara langsung, bukan hanya melalui diplomasi meja perundingan. Kehadiran fisik TNI AL dan berbagai program kemanusiaan akan memperkuat pemahaman negara-negara Pasifik terhadap posisi Indonesia,” kata Amir.

Amir menegaskan bahwa pendekatan persuasif jauh lebih efektif dibandingkan konfrontasi diplomatik.

Menurutnya, ketika masyarakat dan pemerintah negara-negara Pasifik merasakan langsung manfaat kehadiran Indonesia, maka ruang bagi narasi negatif terhadap Indonesia akan semakin menyempit.

Lebih jauh, Amir melihat misi ini juga mengandung pesan strategis kepada Amerika Serikat maupun China.

Indonesia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar objek dalam percaturan geopolitik kawasan Indo-Pasifik, melainkan aktor independen yang memiliki kepentingan dan pengaruh sendiri.

“Indonesia sedang menyampaikan pesan bahwa kawasan Pasifik bukan hanya wilayah permainan negara-negara besar. Indonesia juga memiliki legitimasi historis, geografis, dan politik untuk berperan aktif di sana,” pungkas Amir.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya