Berita

Executive Briefing USABC di Denpasar, Bali. (Foto: RMOL)

Bisnis

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

LAPORAN: DESTARITA RAHMAWATI*
KAMIS, 04 JUNI 2026 | 21:56 WIB

Ketidakpastian ekonomi global dan penguatan Dolar Amerika Serikat tidak mengurangi minat perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam untuk mengembangkan usaha dan memperluas kolaborasi di Bali. 

Di tengah berbagai tantangan ekonomi dunia, US-ASEAN Business Council (USABC) justru melihat Pulau Dewata masih menyimpan peluang besar untuk investasi dan pengembangan berbagai sektor strategis.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Executive Briefing USABC di Denpasar, Kamis 4 Juni 2026, yang menghadirkan sejumlah perusahaan anggota USABC bersama pemangku kepentingan di Bali.


Angga Antagia, Council's Director of Strategic Initiatives USABC, mengatakan pihaknya terus membangun berbagai bentuk kerja sama dengan pemerintah di berbagai sektor, mulai dari pertanian, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pengembangan sumber daya manusia hingga ekonomi digital.

"Sebelum Dolar naik pun kami terus menggali banyak kolaborasi dengan pemerintah karena kami US-ASEAN Business Council," ujar Angga.

Menurutnya, berbagai program tersebut tetap berjalan meski kondisi ekonomi global sedang menghadapi tekanan. USABC menilai tantangan ekonomi justru harus dijawab dengan inovasi dan pencarian peluang baru.

"Yang kita lihat adalah apa peluangnya. Perusahaan-perusahaan anggota USABC selalu menemukan jalan karena Indonesia tidak bisa ditinggalkan begitu saja," tegasnya.

Optimisme tersebut tercermin dari realisasi investasi Amerika Serikat di Bali yang hingga Triwulan I 2026 mencapai Rp661,58 miliar dengan serapan tenaga kerja sebanyak 599 orang. 

Amerika Serikat tercatat sebagai investor terbesar kelima di Bali, dengan investasi yang tersebar pada sektor hotel dan restoran, perumahan, perdagangan, jasa, hingga industri kimia dan farmasi.

Sektor hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp279,87 miliar dari 90 proyek, disusul sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp252,17 miliar dari 277 proyek.

Dalam forum tersebut, sejumlah perusahaan anggota USABC juga memaparkan kontribusi dan rencana pengembangan usaha mereka di Bali.

Marriott International, misalnya, mengungkapkan rencana penambahan hotel baru di Bali. Saat ini jaringan hotel asal Amerika Serikat tersebut telah mengoperasikan 27 hotel di Pulau Dewata.

"Secara umum di Bali akan ada tambahan hotel, tapi lokasi tepatnya kami belum bisa sampaikan," jelas Saraswati Subadja dari Marriott International.

Selain melakukan ekspansi, Marriott juga memperkuat penggunaan produk lokal melalui program Bali for Bali yang telah menyerap produk pertanian dan bahan baku lokal senilai sekitar Rp14 miliar.

Terkait pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS, Saraswati mengatakan dampaknya terhadap operasional hotel relatif terkendali karena sebagian besar kebutuhan diperoleh dari pemasok lokal.

"Yang perlu diperhatikan energi, dari mana asalnya," kata Saraswati.

Selain sektor pariwisata, perusahaan-perusahaan anggota USABC juga menunjukkan keterlibatan mereka dalam pengembangan sektor lain yang menjadi prioritas pembangunan Bali.

Perusahaan teknologi pertanian Corteva Agriscience juga menegaskan komitmennya mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian melalui transfer pengetahuan dan teknologi kepada petani.

Komitmen investasi dan berbagai program yang dijalankan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tersebut dinilai sejalan dengan agenda Transformasi Ekonomi Kerthi Bali yang tengah didorong Pemerintah Provinsi Bali.

Saat ini struktur ekonomi Bali masih didominasi sektor pariwisata yang mencapai 68,33 persen dan masih menghadapi tantangan kesenjangan pembangunan antara Bali Selatan dan wilayah di luar Bali Selatan. 

Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor pertanian organik, kelautan dan perikanan, industri berbasis budaya, UMKM dan koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi Bali juga memperkirakan kebutuhan investasi hingga tahun 2045 mencapai Rp8.939 triliun, dengan sekitar 96 persen diharapkan berasal dari sektor swasta dan masyarakat.
*Kontributor Bali

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya