Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Bisnis

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 10:51 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelemahan tajam nilai tukar Rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik.

Hal tersebut disampaikan pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, merespon pelemahan Rupiah yang sudah menembus di atas level Rp18.000 per Dolar AS dan anjloknya Indeks di level 5.600.

Menurutnya, kondisi pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang tidak bisa dianggap remeh.


"IHSG pagi ini sempat menyentuh level 5.652 atau melemah lebih dari 5 persen, sementara nilai tukar Rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp18.030 per Dolar AS. Kombinasi pelemahan pasar saham dan mata uang secara bersamaan menjadi sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia," kata Hendra dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Kamis 4 Juni 2026.

Ia mengatakan meski pemerintah terus menyebarkan narasi fundamental ekonomi RI baik, namun pasar lebih mengutamakan data ketimbang pernyataan optimistis para pejabat.

"Di saat sebagian pejabat masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid, pelaku pasar justru menunjukkan respons yang berbeda. Pasar tidak membaca pidato, pasar membaca data. Dan data yang terlihat hari ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik," ujarnya.

Menurut Hendra,arus modal asing yang terus keluar, pelemahan Rupiah, serta penurunan pasar saham saat ini menjadi indikator bahwa kepercayaan investor sedang mengalami tekanan. Karena itu persoalan yang dihadapi saat ini, sambungnya, bukan sekadar soal pertumbuhan ekonomi, melainkan menyangkut kredibilitas kebijakan pemerintah.

"Investor membutuhkan kepastian arah fiskal, kepastian regulasi, serta keberpihakan terhadap iklim investasi yang sehat. Pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang terkikis adalah kepercayaan," tegasnya.

Lebih lanjut, Hendra menegaskan bahwa pasar akan selalu menilai kebijakan berdasarkan hasil, bukan sekadar janji atau retorika pejabat.

"Pada akhirnya, investor tidak membeli janji, melainkan keyakinan. Dan keyakinan tidak dibangun melalui pidato yang berulang, melainkan melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan dapat diukur hasilnya. Sebab ketika kata-kata mengatakan ekonomi kuat tetapi Rupiah dan IHSG terus melemah, pasar akan memilih mempercayai angka. Dan angka, pada akhirnya, selalu berbicara lebih jujur," pungkasnya.

Sementara itu terkait isu yang beredar mengenai kemungkinan Indonesia turun ke kategori Frontier Market, Hendra menegaskan kabar tersebut tidak akurat. Berdasarkan metodologi MSCI Global Investable Market Indexes edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berstatus Emerging Market.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati dua agenda penting dari MSCI, yakni Global Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 yang dinilai dapat memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya