Berita

Halaqah Kiai Muda NU yang digelar di Pondok Pesantren Al-Mustofa. (Foto: Istimewa)

Politik

Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya Kritisi Arah PBNU

SELASA, 02 JUNI 2026 | 16:04 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sejumlah tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) dari Solo Raya berkumpul di Boyolali untuk membahas pentingnya supremasi moral dan kepemimpinan ulama di tengah dinamika organisasi yang terus berkembang. Pembahasan itu mengemuka dalam Halaqah Kiai Muda NU yang digelar di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Selasa, 2 Juni 2026.

Forum tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni intelektual NU Ahmad Baso dan Pengasuh PPM Aswaja Nusantara Mlangi, Gus Mustafid. 

Dalam paparannya, Ahmad Baso menyoroti sejumlah fenomena yang menurutnya menunjukkan melemahnya fungsi kepemimpinan ulama dalam tubuh PBNU. Ia mengingatkan kembali pesan KH Ahmad Siddiq mengenai pentingnya menjaga NU tetap berada pada rel perjuangannya.


“KH Ahmad Siddiq pernah mengibaratkan NU seperti rel kereta api yang harus tetap berada pada jalurnya, bukan seperti taksi yang arah perjalanannya ditentukan sepenuhnya oleh sopir. Organisasi harus berjalan berdasarkan prinsip dan sistem, bukan semata-mata bergantung pada figur,” ujar Baso.

Menurutnya, posisi Rois Aam memiliki peran sentral sebagai penjaga arah organisasi sekaligus otoritas moral tertinggi yang harus mampu memberikan koreksi terhadap berbagai penyimpangan, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan umat.

Baso mengenang pengalaman saat diminta almarhum KH Sahal Mahfudh menyusun pidato iftitah dalam sebuah forum bersama pemerintah. Saat itu, KH Sahal secara tegas meminta agar pidato tersebut memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat.

“Beliau mengajarkan bahwa tugas ulama bukan sekadar mendukung, tetapi juga mengingatkan dan mengoreksi ketika ada kebijakan yang keliru,” katanya.

Dalam pandangannya, sosok Rois Aam ideal harus memenuhi empat kriteria utama, yakni wara’ (menjaga diri dari orientasi duniawi), faqih (memiliki kedalaman ilmu agama dan fikih), muharrik (mampu menggerakkan umat), dan munazzim (memiliki kapasitas organisatoris).

“Jika Rois Aam tidak memiliki kapasitas keilmuan yang kuat, maka otoritas ulama akan melemah dan mudah terpinggirkan dalam pengambilan keputusan organisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Gus Mustafid menegaskan bahwa kritik dan masukan yang disampaikan warga Nahdliyin harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab moral demi kemajuan organisasi, bukan sebagai upaya memecah belah NU.

“Saya berharap kita dicatat oleh Allah sebagai bagian dari Nahdliyin yang ikut memberikan kontribusi konstruktif bagi perbaikan dan kemajuan PBNU di masa mendatang,” ujarnya.

Gus Mustafid menjelaskan bahwa berdasarkan Qanun Asasi yang dirumuskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, terdapat tiga fondasi utama yang menjadi dasar perjuangan NU.

Pertama, otoritas ilmu dan keulamaan. Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari menempatkan ilmu dan ulama sebagai fondasi utama dalam kehidupan organisasi.

Kedua, prinsip al-ittihad atau persatuan. Ia menegaskan bahwa berbagai perbedaan pandangan yang muncul di kalangan warga NU tidak boleh sampai menimbulkan perpecahan karena persatuan merupakan salah satu pilar utama organisasi.

“Ketegangan dan perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi jangan sampai memutus tali persatuan yang menjadi warisan para pendiri NU,” katanya.

Ketiga, NU sebagai alat perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai agama, kemaslahatan sosial, dan kepentingan umat. Karena itu, NU tidak boleh direduksi menjadi sarana untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

“NU adalah alat perjuangan. Organisasi ini dibangun untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan umat, bukan untuk menjadi tangga bagi kepentingan personal atau kelompok,” tegas Gus Mustafid.

Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya menghasilkan kesepahaman mengenai pentingnya mengembalikan fungsi kepemimpinan ulama sebagai penjaga moral organisasi, memperkuat tradisi kritik yang konstruktif, serta menjaga persatuan Nahdliyin dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi menjelang Konferensi Besar NU mendatang.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya