Berita

Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU DIY bertajuk "NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin" yang digelar di Pesantren Bumi Cendekia. (Foto: istimewa)

Politik

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

MINGGU, 31 MEI 2026 | 17:10 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU DIY bertajuk "NU Ora Didol: Meneguhkan Khittah NU untuk Kemandirian Nahdliyyin" yang digelar di Pesantren Bumi Cendekia, Minggu, 31 Mei 2026.

Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi dan refleksi warga Nahdliyyin terhadap berbagai dinamika yang berkembang di tubuh organisasi. Tiga isu utama yang menjadi pembahasan adalah aspek kepemimpinan, kemandirian, dan peran kaum muda sebagai penentu masa depan NU.

Sejumlah peserta menyoroti berbagai polemik yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari konflik internal di tingkat pengurus pusat yang berujung pada saling pemecatan, kontroversi pelibatan unsur Zionis Israel dalam sejumlah kegiatan resmi NU, hingga berbagai persoalan lain yang dinilai perlu mendapat perhatian bersama demi menjaga marwah organisasi.


Dewan Penasihat Mubes sekaligus Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Machasin, menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik yang terjadi di tubuh NU, khususnya hubungan antara unsur syuriah dan tanfidziyah.

"Kalau ditanya ada musyawarah besar, musyawarah kecil atau nggak? Atau musyawarahnya langsung besar dan diadakannya ini karena ada sesuatu yang mengusik kesadaran kita, rasa kita terganggu karena adanya, terus terang saja kita sebut, perselisihan antara syuriah dan tanfiziyah (PBNU)," kata Machasin dalam sambutannya.

Menurutnya, perselisihan tersebut bukan persoalan biasa karena telah memunculkan polarisasi yang berpotensi merugikan organisasi. Ia mengaku memilih menjaga jarak dari pusaran konflik karena merasa prihatin dengan situasi yang berkembang.

Machasin juga menyinggung agenda besar Muktamar NU yang akan digelar pada Agustus mendatang. Ia berharap forum tertinggi organisasi tersebut dapat menjadi momentum penyelesaian berbagai persoalan internal.

Namun demikian, ia mengaku masih menyimpan keraguan apakah Muktamar nantinya benar-benar menghasilkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen atau justru hanya menjadi ajang kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya.

"Karena itu musyawarah seperti ini penting sebagai ruang pertemuan dan penyampaian aspirasi warga NU," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PWNU DIY, A. Zuhdi Muhdlor, menyambut positif pelaksanaan Mubes tersebut. Menurutnya, forum yang digagas oleh warga dan kalangan kultural NU menunjukkan adanya kepedulian yang besar terhadap masa depan organisasi.

Ia menangkap adanya keresahan di kalangan peserta terkait implementasi khittah NU yang dinilai perlu diluruskan. Karena itu, musyawarah dianggap sebagai langkah konstruktif untuk memberikan masukan bagi perjalanan NU ke depan.

"Saya kira ini sesuatu yang bagus, karena menunjukkan kepedulian anak-anak muda dan teman-teman kultural untuk ikut memikirkan NU. Jadi NU tidak hanya dipikirkan oleh mereka yang berada di pusat, tetapi juga oleh warga di berbagai daerah," katanya.

Selain dihadiri para Nahdliyyin dari berbagai kalangan, kegiatan tersebut juga diikuti oleh Ketua Muslimat NU DIY Fatma Amalia, Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Mochammad Sodiq, Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum KrapyakIda Rufaida, mantan Ketua PW Fatayat NU DIY Khotimatul Husna, serta sejumlah aktivis muda NU di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mubes "NU Ora Didol" diharapkan menjadi wadah artikulasi aspirasi warga Nahdliyyin sekaligus penguatan komitmen terhadap khittah NU, kemandirian organisasi, serta regenerasi kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya