Berita

Ilustrasi peta Selat Hormuz (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube WSJ)

Dunia

Lembaga Dunia Peringatkan Efek Domino Krisis Selat Hormuz

SABTU, 30 MEI 2026 | 14:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Blokade pelabuhan di Iran bukan lagi sekadar tensi militer lokal, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Kuartet lembaga tertinggi dunia; IMF, Bank Dunia, IEA, dan WTO, bahkan kompak merilis peringatan darurat terkait ancaman krisis yang kini mulai mengintai negara-negara maju di Belahan Bumi Utara.

Dalam rilis bersama yang diterbitkan Jumat 29 Mei 2026,  keempat lembaga tersebut menegaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah memicu dampak yang sangat asimetris atau timpang. Negara-negara miskin dan berkembang langsung tercekik oleh lonjakan harga pangan dan pupuk, sementara negara-negara industri di utara bumi terancam kehabisan napas akibat kelangkaan energi.

Pemicu utamanya adalah penyusutan cadangan minyak mentah global yang kini terkuras dalam kecepatan yang mencetak rekor sejarah. Kemacetan total arus kapal tanker di Selat Hormuz menjadi biang keladi utamanya.


Situasi ini berada di titik kritis karena terjadi menjelang puncak permintaan (*peak demand*) musim panas di Belahan Bumi Utara. Apabila arus pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dinormalisasi, penyusutan stok minyak yang cepat ini dipastikan akan memicu krisis keamanan pasokan bahan bakar global, guncangan hebat pada volatilitas pasar komoditas, serta tekanan berat pada ketahanan ekonomi makro secara luas.

Menghadapi risiko tersebut, IMF, Bank Dunia, IEA, dan WTO berkomitmen mempererat koordinasi internasional untuk memonitor situasi secara *real-time* serta menyelaraskan bantuan bagi negara-negara yang paling rentan demi menjaga stabilitas ekonomi dunia.

Krisis akut di Selat Hormuz ini merupakan rentetan efek domino yang bermula pada 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik di Iran. Sempat ada titik terang ketika Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata dua pekan pada 7 April.

Sayangnya, asa kedamaian itu pupus setelah perundingan lanjutan di Islamabad berakhir buntu tanpa kesepakatan. Alih-alih mereda, Amerika Serikat memilih mengambil langkah agresif dengan memberlakukan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran, yang kini membuat jalur logistik Selat Hormuz membara. 

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Menteri Haji Usul BPIH 2027 Naik 10-15 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:22

Perpres Ojol 2026 Dikebut, Ini 3 Tarif yang Bakal Diatur Pemerintah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:12

Film Insidious: Out of the Further Resmi Tayang di Indonesia, Ini Sinopsisnya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01

Penyegaran AKD Golkar Strategis Perkuat Kinerja DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:54

Rupiah Menguat Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:38

Trump Hentikan Latihan Militer AS-Korsel Lebih Cepat Demi Hubungan Baik dengan Korut

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:26

IGCE 2026 Momentum Indonesia Jadi Raksasa Geothermal Dunia

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:23

Polri-Kejagung Kompak Minta Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:21

Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Pelecehan Atlet

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:01

Gerak Cepat Pemerintah Harus Dirasakan Rakyat NTT

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:45

Selengkapnya