Berita

Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Azmi Syahputra (Foto: RMOL)

Hukum

Berbahaya Jika Opini Mempengaruhi Sidang Kasus Bea Cukai

SABTU, 30 MEI 2026 | 05:49 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Penanganan perkara dugaan korupsi importasi barang di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) perlu dijaga tetap objektif dan tidak terjebak pada pembentukan opini yang melampaui fakta persidangan.

Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Azmi Syahputra mengingatkan aparat penegak hukum (APH) agar berhati-hati membangun konstruksi perkara sehingga tidak menimbulkan bias di ruang publik.

“Jangan berhenti di ‘kambing hitam’. Jika dugaan dalam kasus ini benar dan terbukti maka penyidik tidak boleh puas hanya dengan memenjarakan pejabat level menengah atau saksi lapangan yang mengedarkan amplop yang sudah diberi kode khusus,” kata Azmi kepada RMOL, Jumat, 29 Mei 2026.


Menurut Azmi, dalam perkara besar seperti dugaan korupsi di sektor kepabeanan, publik harus memperoleh informasi yang proporsional antara narasi awal penyidikan dengan fakta yang benar-benar terungkap di persidangan.

Ia menilai, perbedaan antara narasi yang berkembang di ruang publik dengan fakta yang muncul dalam persidangan berpotensi memunculkan kebingungan sekaligus menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum.

Apalagi, dalam persidangan terakhir muncul keterangan dari pihak kuasa hukum Blue Ray Cargo yang meragukan apakah amplop dengan kode tertentu benar-benar sampai kepada pihak yang disebut dalam daftar penerima.

Karena itu, Azmi meminta APH tidak berhenti pada konstruksi simbolik seperti daftar kode atau istilah internal yang belum tentu identik dengan penerimaan uang secara langsung.

“Dalam hukum pidana, diatur terkait delik penyertaan untuk memperluas dan menarik pertanggungjawaban pidana sekaligus menjadi alat terbaik untuk mengurai jaringan korupsi terorganisir,” ujar Azmi.

Ia menegaskan, penyidik tidak perlu ragu hanya karena mengalami kesulitan membuktikan tindakan fisik pemberian amplop. 

Menurutnya, instrumen hukum pidana telah menyediakan mekanisme untuk menelusuri pihak-pihak yang diduga mengetahui, mengendalikan, atau menikmati hasil tindak pidana.

“Jadi penyidik tidak perlu ragu atau beralasan kesulitan membuktikan perbuatan fisik pemberian amplop,” kata Azmi.

Azmi juga mendorong agar penelusuran aliran dana dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan follow the money dan penerapan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejak tahap awal penyidikan.

“Dalam kasus ini apakah posisi bawahan dikondisikan untuk pasang badan sebagai ‘kambing hitam’. Karenanya pula ikuti  aliran uang (follow the money) dan gunakan TPPU sejak awal penyidikan,” kata Azmi.

Ia menambahkan, penerapan TPPU seharusnya tidak ditempatkan hanya sebagai instrumen tambahan di akhir perkara, melainkan dijadikan alat utama untuk membantu membongkar konstruksi dugaan korupsi yang lebih luas.

“Jangan jadikan TPPU sebagai lampiran akhir, melainkan jadikan ini sebagai alat pembongkar,” pungkas Azmi.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Bikin Lomba Kota Terbersih, Lima Terbaik Dapat Rp20 Miliar

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:26

Oknum Brimob di KPK Diduga Bocorkan Dokumen Perkara, Dipakai Peras Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:18

ST Burhanuddin Mutasi 176 Jaksa, 90 Kajari Bergeser

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:17

Prabowo Wanti-wanti Konflik Timteng Bisa Meluas dan Semakin Memburuk

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:51

Deddy Sitorus Bantah Hina Wartawan dan Tantang Balik KWP

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:35

Lokataru: Kopdes Merah Putih Rawan Dimobilisasi Jadi Mesin Politik Bawah Tanah

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:26

Prabowo Tertarik Belajar Cara India Bangun 3 Juta Rumah dalam Setahun

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:21

Terima Aspirasi Guru TK, DPR Siap Agendakan Penguatan PAUD

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:19

MK: Anggaran MBG Tak Boleh Lagi Masuk Pos Pendidikan

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Pembahasan RUU HAM, Perlindungan Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Selengkapnya