Berita

Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandara Orly, Paris, Prancis dalam rangkaian kunjungan kenegaraan, pada Selasa, 26 Mei 2026. (foto: BPMI Setpres)

Politik

Prabowo, Naga Asia yang Sedang Bangkit

SABTU, 30 MEI 2026 | 02:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Indonesia saat ini sedang menunjukkan kualitas kepemimpinan geopolitik yang semakin menonjol di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan, belum genap dua tahun memimpin Indonesia, Prabowo telah membangun komunikasi yang intens dengan seluruh pusat kekuatan utama dunia. 

"Prabowo aktif menjalin hubungan dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris, dan Prancis," kata Denny, dikutip Sabtu 30 Mei 2026.


Menurut Denny, inilah lima negara yang memiliki pengaruh sangat besar dalam arsitektur politik global dan kelimanya memiliki Hak Veto di PBB.

"Yang menarik, hubungan tersebut tidak dibangun dalam semangat keberpihakan pada satu blok tertentu," kata Denny.

Denny melihat, Prabowo justru menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan yang semakin langka di era rivalitas geopolitik saat ini.

Prabowo berbicara dengan Washington tanpa memusuhi Beijing. Ia menjalin hubungan erat dengan Beijing tanpa memutus hubungan dengan Barat.

"Prabowo membuka komunikasi dengan Moskow tanpa kehilangan kepercayaan negara-negara Eropa," kata Denny.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan seperti itu adalah aset strategis yang sangat berharga.

Media Prancis, Opinion Internationale pada 28 Mei 2026, bahkan mulai menggambarkan Indonesia sebagai “Naga Asia terakhir yang bangkit” di bawah kepemimpinan Prabowo.

"Julukan itu lahir dari kombinasi ukuran ekonomi Indonesia, bonus demografi, posisi geopolitik yang strategis, serta ambisi pembangunan nasional yang semakin besar," kata Denny.

Di luar dunia Barat, publik internasional selama ini mengenal tokoh-tokoh seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi sebagai pemimpin yang memberi warna kuat bagi zamannya.

Kini, Indonesia mulai dipandang memiliki figur yang mampu memainkan peran serupa bagi Asia Tenggara.

“Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat karena kekayaan alam semata. Negara akan kuat jika mampu membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan secara bersamaan,” ujar Denny.

Karena itu, menurutnya, diplomasi Prabowo bukanlah diplomasi seremonial. Ia adalah diplomasi pembangunan.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya