Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Bisnis

Saham Wilmar dan Salim Ivomas Anjlok Usai Disebut Terlibat Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit

KAMIS, 28 MEI 2026 | 12:00 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kasus dugaan manipulasi ekspor sawit yang diungkap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berdampak pada pergerakan saham sejumlah perusahaan sawit besar di pasar modal.

Salah satu perusahaan yang disebut terlibat praktik transfer pricing yang berpotensi menyebabkan penghindaran pajak adalah Wilmar International.

Berdasarkan pantauan RMOL, saham perusahaan agribisnis global yang tercatat di Bursa Singapura itu anjlok 3,98 persen menjadi 3,38 dolar Singapura pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026.


Wilmar diketahui memiliki bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk jaringan perkebunan dan rantai pasok yang besar di Indonesia.

Sementara itu, Musim Mas Group yang juga disebut dalam dugaan kasus tersebut tidak memiliki saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Grup sawit milik keluarga Bachtiar Karim itu berstatus perusahaan tertutup (private company) meski dikenal sebagai salah satu pemain utama industri kelapa sawit global.

Di sisi lain, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang merupakan bagian dari Indofood Group juga terpantau mengalami tekanan. Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit itu melemah setelah Purbaya mengungkap nama-nama perusahaan yang diduga terlibat praktik manipulasi ekspor.

Pada perdagangan 26 Mei 2026, saham SIMP turun 1,75 persen ke level Rp560 per lembar saham. Secara bulanan, saham emiten tersebut telah merosot 31,52 persen dari sebelumnya Rp825 menjadi Rp560 per lembar saham.

Sebelumnya, Purbaya mengungkapkan pemerintah telah mengantongi data dugaan manipulasi ekspor tersebut sejak tiga bulan terakhir.

“Data itu sudah ada tiga bulan lalu,” kata Purbaya di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan perusahaan menghindari kewajiban kepada negara, meskipun tetap mempertimbangkan keberlangsungan usaha mereka.

“Nanti kita lihat apa yang terbaik, tetapi yang jelas kita nggak akan membuat perusahaan itu tutup. Dia harus membayar kewajiban sesuai dengan nanti pemeriksaan,” tegasnya.

Purbaya menjelaskan, praktik yang diduga dilakukan para eksportir berkaitan dengan transfer pricing melalui perusahaan trading di Singapura. Modusnya, harga ekspor crude palm oil (CPO) dicatat lebih rendah sebelum dijual kembali ke Amerika Serikat dengan selisih harga yang disebut mencapai 50 persen.

Saat ditanya mengenai perusahaan yang masuk daftar pemeriksaan, Purbaya membenarkan adanya nama Wilmar International dan Musim Mas Group.

“Itu dua betul. Dua-duanya betul,” ujarnya.

Selain itu, PT Salim Ivomas Pratama Tbk juga disebut berpotensi masuk dalam daftar eksportir yang diperiksa pemerintah.

Purbaya menilai praktik tersebut membuat nilai ekspor yang tercatat menjadi lebih rendah dibandingkan harga sebenarnya.

“Mungkin lebih ke transfer pricing ya, di sini benar, di sananya salah. Jadi data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, kira-kira 50 persen di bawah,” pungkasnya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya