Berita

Kedatangan Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditangkap aparat Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. (Foto: detik)

Politik

Pemerintah Harus Seret Israel ke PBB usai Siksa 9 WNI

SENIN, 25 MEI 2026 | 13:36 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditangkap aparat Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya tiba kembali di Tanah Air setelah melalui proses panjang.

Penangkapan bermula ketika pasukan Israel mencegat sejumlah kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla secara bertahap pada Senin, 18 Mei lalu. Dalam operasi tersebut, sejumlah relawan ditahan, termasuk sembilan WNI yang ikut dalam pelayaran kemanusiaan itu.

Seluruh relawan, termasuk sembilan WNI, akhirnya dibebaskan pada Kamis, 21 Mei waktu setempat. Setelah bebas, mereka diterbangkan ke Turki menggunakan pesawat yang disiapkan otoritas setempat sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Indonesia.


Selama menjalani penahanan, sejumlah WNI mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi. Beberapa di antaranya bahkan melaporkan adanya kekerasan fisik seperti pemukulan hingga penyetruman.

Anggota Komisi I DPR RI, Taufiq R Abdullah, mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik agresif dengan menyeret Israel ke Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Taufiq menegaskan, dunia internasional harus memberikan sanksi yang tegas atas tindakan penyiksaan dan kekerasan brutal aparat Israel terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi relawan kemanusiaan di kapal Global Sumud Flotilla.

“Kami mengecam keras tindakan penangkapan terhadap aktivis kemanusiaan, lebih-lebih tindakan kekerasannya. Itu semua adalah kejahatan yang harus dihentikan dan diberi sanksi. Tentara Israel sudah berkali-kali menunjukkan perilaku kriminal baik terhadap usaha-usaha kemanusiaan maupun perdamaian. PBB tidak boleh kalah lagi dengan arogansi Israel yang tidak mau tunduk kepada hukum-hukum internasional yang berlaku,” tegas Taufiq di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Aksi represif militer Israel kali ini dinilai sudah melampaui batas kemanusiaan. Salah satu relawan asal Indonesia, Rahendro Heruwibowo, membeberkan testimoni mengerikan mengenai penyiksaan fisik yang dialaminya selama berada di dalam tahanan Israel.

Rahendro mengaku diseret ke daratan lalu dijebloskan ke dalam bilik khusus yang diduga sengaja disiapkan sebagai ruang penyiksaan.

"Selama perjalanan pemindahan, para relawan mendapat perlakuan sangat kasar dari aparat Israel. Borgol dipasang luar biasa kencang lalu sengaja dimainkan (ditarik). Kami dipaksa berjalan sambil menunduk kepala, dan kalau ada yang jatuh langsung ditendang. Saya juga dipukul berkali-kali, diinjak, hingga disetrum," ungkap Rahendro menceritakan kekejaman yang dialaminya.

Melihat kekejaman tersebut, Taufiq R Abdullah menilai sikap diamnya dunia internasional justru menjadi 'lampu hijau' bagi Israel untuk terus melakukan kejahatan lintas negara tanpa rasa takut.

“Selama ini dunia internasional terkesan diam dan ketakutan, sehingga Israel terbukti bisa leluasa bertindak semena-mena,” cetus politisi senior PKB tersebut.

Oleh karena itu, Taufiq meminta pemerintah tidak sekadar fokus pada urusan birokrasi pemulangan para relawan ke tanah air. Ia menuntut Kementerian Luar Negeri untuk menjamin hak kesehatan dan pemulihan psikologis korban yang mengalami trauma mendalam.

“Kami meminta pemerintah segera melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh kepada para WNI yang menjadi korban. Selain itu, pendampingan trauma healing juga penting dilakukan agar kondisi fisik dan mental mereka benar-benar pulih,” pungkasnya.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Bukan Indonesia yang Bebaskan Flotilla dari Israel

Sabtu, 23 Mei 2026 | 01:30

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Asosiasi Dosen Tuntut Gaji Minimal Dua Kali Lipat UMP

Senin, 25 Mei 2026 | 12:20

Zulhas Jangan Limpahkan Salah Nama Desa ke Bawahan

Senin, 25 Mei 2026 | 12:19

Fraksi Gerindra Apresiasi Pemulangan 9 WNI, Sebut Bukti Efektivitas Diplomasi RI

Senin, 25 Mei 2026 | 12:04

Dolar Kabur, Mafia Makmur

Senin, 25 Mei 2026 | 12:00

Rencana Jokowi Keliling Indonesia Diduga Terkait Dinamika Politik 2029

Senin, 25 Mei 2026 | 11:55

Kiai Imam Jazuli Perkuat Inovasi Pesantren Lewat Workshop Nasional

Senin, 25 Mei 2026 | 11:52

Pengamat Soroti Dampak Zulhas Salah Informasi ke Presiden

Senin, 25 Mei 2026 | 11:44

GOR Tri Lomba Juang Bakal Direhabilitasi Standart World Athletics Certification System

Senin, 25 Mei 2026 | 11:41

Awal Pekan, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp81 Ribu per Kg

Senin, 25 Mei 2026 | 11:39

LOFF 2026 Dorong Kota Semarang Jadi Pusat Ekosistem Sinema Dunia

Senin, 25 Mei 2026 | 11:31

Selengkapnya