Berita

Sejumlah tokoh menyerahkan dokumen Amicus Curiae atas perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Foto: RMOL)

Hukum

Sejumlah Tokoh Ajukan Amicus Curiae Minta Hakim Bebaskan Nadiem Makarim

SENIN, 25 MEI 2026 | 12:48 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sejumlah tokoh lintas generasi dan lintas bidang menyerahkan dokumen Amicus Curiae atau Sahabat Pengadilan untuk perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Dokumen tersebut diserahkan kepada majelis hakim sebagai bentuk dukungan moral agar proses peradilan berjalan adil dan objektif.

Ekonom sekaligus mantan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi mengatakan terdapat 21 tokoh yang menandatangani dokumen amicus curiae tersebut. Menurutnya, seluruh penandatangan merupakan sahabat Nadiem yang memiliki perhatian terhadap isu keadilan dan pemberantasan korupsi.


“Kita baru saja menyerahkan amicus curiae untuk ditujukan kepada para hakim yang akan memberikan pengadilan kepada Nadiem. Kita ini kawan-kawan dari Nadiem dan keluarganya yang concern dengan masalah-masalah keadilan,” kata Laksamana Sukardi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 25 Mei 2026.

Ia berharap dokumen tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan hakim dalam memutus perkara, meskipun secara hukum amicus curiae tidak bersifat mengikat.

“Mudah-mudahan bisa menjadi bagian dari kebijakan putusan hakim. Walaupun memang amicus curiae secara hukum tidak mengikat, tapi secara moril ini sangat berguna,” ujarnya.

Laksamana Sukardi menilai perkara yang menjerat Nadiem bukan sekadar mengadili satu individu, melainkan menyangkut masa depan kepastian hukum di Indonesia.

“Yang diadili bukan hanya Nadiem seorang, tapi bangsa Indonesia yang sedang diadili. Ini representasi dari satu generasi dan satu kasus di mana kita merasa satu perahu dengan kasus Nadiem,” ujarnya.

Ia menyoroti tuduhan adanya persekongkolan dengan perusahaan teknologi Google yang dinilai tidak masuk akal. Menurutnya, Google sebagai perusahaan multinasional terikat aturan ketat Foreign Corrupt Practices Act sehingga kecil kemungkinan melakukan persekongkolan ilegal.

“Kalau dia melakukan persekongkolan di suatu negara, hukumannya besar sekali,” katanya.

Dia juga menyinggung tuduhan terkait investasi Google di Gojek dan GoTo. Ia menilai tuduhan tersebut dipaksakan karena Nadiem bukan pemegang saham pengendali.

“Nadiem hanya memiliki saham yang kecil walaupun dia founder. Dia tidak bisa menentukan sebagai pemegang saham pengendali. Sahamnya mungkin di bawah 2 persen,” ujarnya.

Menurutnya, jika perkara seperti itu tetap dipaksakan hingga berujung vonis bersalah, maka citra kepastian hukum Indonesia di mata investor global akan semakin buruk.

“Kalau kepastian hukum itu merupakan inti daripada kemajuan suatu negara. Jangan sampai generasi muda dan profesional tidak percaya pada hukum di negaranya sendiri,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut tuduhan dalam perkara Chromebook terhadap Nadiem banyak yang tidak masuk akal jika diuji secara akademis. Karena itu, Laksamana Sukardi berharap hakim memiliki keberanian untuk memutus perkara secara adil demi kepentingan bangsa dan negara.

“Mudah-mudahan surat kami bisa dibaca oleh hakim. Ada keberanian hakim demi bangsa dan negara, bukan ketakutan lagi. Hukum itu bukan ketakutan, pemberantasan korupsi itu bukan melulu memenjarakan orang, tapi menegakkan keadilan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Lisra Sukur (Arsil), Peneliti Senior Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP) turut menegaskan para penandatangan berasal dari berbagai latar belakang dan tidak terafiliasi dengan kepentingan politik tertentu.

Menurutnya, para penandatangan selama ini juga dikenal sebagai pegiat antikorupsi yang tetap percaya pemberantasan korupsi harus dilakukan secara berkeadilan.

Turut hadir tokoh yang ikut menyerahkan Amicus Curiae perkara Chromebook antara lain Mantan Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid: mantan jurnalis, Bambang Harymurti; Aktivis Perempuan dan Kemanusiaan, Musdah Mulia dan anggota International Council of Tranparency International dan mantan Chair of Excecutive Board at Transparency International Indonesia, Natalia Soebagjo.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya