Berita

Representative Image (Foto: Istimewa)

Dunia

Pakar Internasional Tegaskan Otonomi Sahara Maroko Solusi Realistis dan Berkelanjutan

SENIN, 25 MEI 2026 | 12:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Inisiatif otonomi yang diajukan Kerajaan Maroko untuk menyelesaikan konflik Sahara Maroko kembali mendapat dukungan dari kalangan akademisi dan pengamat internasional. 

Dalam sebuah forum yang digelar di Verona, Italia utara, para pakar Maroko dan Italia menegaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan solusi paling realistis dan berkelanjutan untuk mengakhiri sengketa yang telah berlangsung lama sekaligus memperkuat stabilitas kawasan.

Diskusi bertema “Autonomy and Regionalized Governance: Cross Perspectives on the Italian Experience and the Moroccan Perspective” itu menyoroti pentingnya model otonomi sebagai instrumen tata kelola modern yang mampu mengakomodasi keberagaman tanpa mengorbankan persatuan nasional. 


Para pembicara sepakat bahwa rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko menjadi kerangka pragmatis yang dapat mendorong perdamaian, terutama ketika kawasan Sahel-Sahara tengah menghadapi berbagai tantangan keamanan dan geopolitik.

Senator Italia dari wilayah Trentino-Alto Adige, Luigi Spagnolli, mengingatkan bahwa Resolusi 2797 Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada Oktober lalu telah memperkuat posisi inisiatif otonomi Maroko sebagai dasar penyelesaian isu Sahara.

Ia juga menekankan bahwa identitas nasional Maroko dibangun di atas keragaman budaya dan sejarah yang saling melengkapi. 

“Persatuan nasional Maroko, yang ditempa oleh konvergensi komponen Arab-Islam, Amazigh, dan Saharo-Hassani, telah dipelihara dan diperkaya oleh pengaruh Afrika, Andalusia, Ibrani, dan Mediterania,” ujarnya.

Sementara itu, pakar ilmu politik dan hubungan internasional Marco Baratto menilai usulan otonomi di bawah kedaulatan Maroko menawarkan perspektif politik yang berjangka panjang. 

Menurutnya, kemajuan pembangunan di provinsi-provinsi selatan dapat menjadi pengungkit pertumbuhan sekaligus memperkuat stabilitas regional. Ia bahkan menyamakan status khusus Sisilia yang diterapkan Italia sejak 1946 dengan model otonomi yang diusulkan Maroko, seraya menyebut keduanya sebagai dua model yang melayani persatuan nasional dan stabilitas regional. 

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Hubungan Internasional dan pakar resolusi konflik, Yasmine El Hassnaoui. Ia menilai rencana otonomi mampu menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kebutuhan masyarakat lokal. 

“Rencana otonomi ini mendamaikan persatuan dan keberagaman, kedaulatan dan pemerintahan mandiri, kohesi nasional dan pemberdayaan regional,” katanya. 

El Hassnaoui juga menegaskan bahwa Sahara secara historis merupakan bagian integral dari Maroko dan menyoroti besarnya investasi yang telah digelontorkan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, energi terbarukan, logistik, serta transportasi di wilayah tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal Maroko di Verona, Abdelilah Nejjari, memaparkan perkembangan terbaru terkait isu Sahara Maroko dalam kerangka diplomasi yang dijalankan di bawah kepemimpinan Raja Mohammed VI. 

Menurutnya, dinamika diplomatik tersebut telah menghasilkan dukungan internasional yang semakin luas terhadap pendekatan politik yang diusung Rabat.

Nejjari menegaskan bahwa Resolusi 2797 kini menjadi rujukan utama dalam hukum internasional terkait Sahara Maroko karena mengabadikan proses politik yang realistis dan berkelanjutan berdasarkan rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko.

Forum tersebut turut dihadiri anggota komunitas Maroko di Italia serta sejumlah pejabat senior daerah Italia yang memberikan perhatian terhadap perkembangan isu Sahara.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Bukan Indonesia yang Bebaskan Flotilla dari Israel

Sabtu, 23 Mei 2026 | 01:30

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Asosiasi Dosen Tuntut Gaji Minimal Dua Kali Lipat UMP

Senin, 25 Mei 2026 | 12:20

Zulhas Jangan Limpahkan Salah Nama Desa ke Bawahan

Senin, 25 Mei 2026 | 12:19

Fraksi Gerindra Apresiasi Pemulangan 9 WNI, Sebut Bukti Efektivitas Diplomasi RI

Senin, 25 Mei 2026 | 12:04

Dolar Kabur, Mafia Makmur

Senin, 25 Mei 2026 | 12:00

Rencana Jokowi Keliling Indonesia Diduga Terkait Dinamika Politik 2029

Senin, 25 Mei 2026 | 11:55

Kiai Imam Jazuli Perkuat Inovasi Pesantren Lewat Workshop Nasional

Senin, 25 Mei 2026 | 11:52

Pengamat Soroti Dampak Zulhas Salah Informasi ke Presiden

Senin, 25 Mei 2026 | 11:44

GOR Tri Lomba Juang Bakal Direhabilitasi Standart World Athletics Certification System

Senin, 25 Mei 2026 | 11:41

Awal Pekan, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp81 Ribu per Kg

Senin, 25 Mei 2026 | 11:39

LOFF 2026 Dorong Kota Semarang Jadi Pusat Ekosistem Sinema Dunia

Senin, 25 Mei 2026 | 11:31

Selengkapnya