Berita

Sandiaga Uno . (Foto: RMOL)

Bisnis

Pariwisata Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi di Tengah Pelemahan Rupiah

JUMAT, 22 MEI 2026 | 10:23 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari naiknya biaya hidup hingga tekanan terhadap dunia usaha dan lapangan pekerjaan.

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menilai kondisi tersebut harus direspons dengan langkah konkret dan strategi ekonomi yang tepat.

“Rupiah makin lemah bikin dompet kebobolan,” ujar Sandiaga lewat keterangannya di X, Jumat, 22 Mei 2026.


Menurutnya, pelemahan rupiah menyebabkan harga barang impor meningkat sehingga kebutuhan hidup masyarakat ikut naik. Di sisi lain, investor cenderung menahan ekspansi usaha karena kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Akibatnya, pembukaan lapangan kerja baru ikut tertunda. UMKM dan sektor industri juga menghadapi tekanan karena biaya produksi semakin tinggi.

Sandiaga mengatakan Indonesia perlu belajar dari Jepang dan Thailand yang pernah mengalami pelemahan mata uang. Menurutnya, kedua negara itu tidak hanya meratapi keadaan, tetapi langsung memperkuat sektor pariwisata secara masif.

“Mereka langsung memperkuat sektor pariwisata secara masif yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi banyak usaha kecil,” katanya.

Ia menilai sektor pariwisata domestik dapat menjadi salah satu andalan Indonesia untuk menghadapi tekanan ekonomi global. Pelemahan rupiah justru membuat Indonesia menjadi destinasi yang lebih murah dan menarik bagi wisatawan asing.

Selain itu, produk-produk UMKM seperti makanan, fesyen, hingga produk kreatif dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar global.

Sandiaga juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, melalui penguasaan keterampilan digital, kecerdasan buatan (AI), dan kewirausahaan.

“Anak muda perlu punya skill digital, AI, dan entrepreneur agar tetap relevan di tengah tekanan global,” tuturnya.

Nilai tukar Rupiah kembali tertekan ke level Rp17.705 per Dolar AS pada perdagangan Jumat 22 Mei 2026, setelah sempat menguat ke Rp17.600 per Dolar AS pada perdagangan kemarin.

Pelemahan Rupiah ini masih terjadi meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya