Berita

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Subagyo. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Bisnis

Investor Sawit Bisa Pindah ke Afrika Jika Regulasi Dinilai Tak Ramah

JUMAT, 22 MEI 2026 | 10:00 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Iklim regulasi yang dinilai kurang ramah terhadap dunia usaha dikhawatirkan memicu hengkangnya investor dari sektor strategis Indonesia, termasuk industri kelapa sawit, ke negara lain seperti Afrika.

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam merumuskan kebijakan ekonomi supaya tidak memicu capital flight atau pelarian modal dari Indonesia.

Menurut Firman, sektor-sektor besar seperti sawit, pertambangan, dan migas merupakan industri padat modal yang sangat bergantung pada kepastian regulasi dan dukungan investasi.


“Saya khawatir nanti malah kebijakan ini akan menguntungkan negara lain. Seperti sawit, itu akhirnya Malaysia yang akan booming. Atau sebaliknya, sawit itu nanti mungkin malah para pelaku usaha akan hijrah ke Afrika,” kata Firman kepada RMOL, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.

Ia menilai negara-negara di Afrika mulai serius mengembangkan industri sawit dan belajar dari pengalaman Indonesia. Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi ancaman apabila pemerintah tidak segera memperbaiki regulasi di dalam negeri.

Firman menegaskan, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan APBN untuk membangun ekonomi nasional. Karena itu, keberadaan sektor swasta dan investasi dinilai sangat penting dalam menopang pembangunan.

Ia juga menyoroti wacana kebijakan yang dinilai memberi kontrol terlalu besar kepada negara, termasuk potensi monopoli ekspor oleh BUMN. Menurutnya, tujuan pengawasan pemerintah memang baik, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Firman menilai persoalan seperti praktik under invoicing seharusnya diselesaikan melalui penguatan fungsi pengawasan, bukan dengan kebijakan yang justru mempersempit ruang gerak dunia usaha.

“Harusnya fungsi pengawasannya yang ditingkatkan, bukan kemudian diambil alih seperti itu,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan adanya contoh negara yang gagal menerapkan kebijakan ekonomi terlalu sentralistik, seperti Venezuela. Karena itu, pemerintah diminta tidak gegabah mengambil langkah yang dapat mengganggu kepercayaan investor.

Menurut Firman, investor dan perbankan akan mulai mempertanyakan kepastian pengembalian investasi apabila keuntungan sektor swasta terlalu banyak diatur negara tanpa kepastian regulasi yang jelas.

Selain itu, ia menilai Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia yang telah memiliki perlindungan khusus melalui Undang-Undang Perkelapa Sawitan. Sementara di Indonesia, regulasi yang menopang sektor sawit dinilai belum cukup kuat. 

Karena itu, Firman meminta pemerintah memastikan setiap kebijakan tetap memberikan kepastian usaha agar Indonesia tidak kehilangan investasi strategis ke negara lain.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya