Berita

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus (repro TVR Parlemen)

Politik

Komisi V DPR: Jika Kecelakaan KRL Terulang, Berarti Sistem Tak Dibenahi

KAMIS, 21 MEI 2026 | 15:34 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Komisi V DPR RI menyoroti keras insiden tabrakan kereta api jarak jauh dengan KRL di kawasan Stasiun Bekasi Timur. DPR menegaskan tragedi serupa tidak boleh kembali terjadi di tengah sistem operasional kereta yang semakin modern.

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menilai akan menjadi ironi jika kecelakaan yang sama kembali terulang karena teknologi pengendalian perjalanan kereta seharusnya sudah mampu memitigasi risiko tabrakan.

“Yang sudah berlalu tak bisa kita tarik kembali. Namun kalau mengulangi kejadian yang sama, mohon maaf, itu berarti kita tidak cukup cerdas kalau sampai jatuh di lubang yang sama dua kali,” kata Lasarus dalam rapat kerja di Gedung DPR RI, Kamis (21/5/2026).


Menurutnya, publik mempertanyakan bagaimana kecelakaan masih bisa terjadi di tengah sistem pengendalian perjalanan kereta yang telah terintegrasi. Ia menyinggung sistem Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) yang seharusnya mampu membaca posisi dan jarak antarkereta sehingga potensi tabrakan dapat diantisipasi lebih awal.

“Kalau sistem mengalami gangguan, jadwal keberangkatan dan posisi masing-masing kereta seharusnya tetap bisa terbaca,” ujarnya.

Lasarus juga mempertanyakan efektivitas sistem pengamanan yang ada saat ini dalam menghadapi situasi darurat di jalur kereta.

Selain itu, ia mengingatkan risiko kecelakaan masih tinggi karena banyaknya perlintasan sebidang, termasuk yang tidak dijaga petugas.

“Tentu peluang kejadian serupa masih sangat mungkin terjadi, apalagi dengan banyaknya perlintasan sebidang yang tidak ada penjaganya,” katanya.

Komisi V DPR juga meminta seluruh pihak terbuka dalam mengungkap penyebab kecelakaan. Menurut Lasarus, kejujuran penting sebagai bentuk tanggung jawab kepada para korban.

“Kalau kita berbohong saat ini, kita juga berbohong kepada mereka yang menjadi korban kecelakaan ini,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa fokus utama evaluasi bukan hanya mencari pihak yang bersalah, melainkan menemukan titik lemah dalam sistem operasional kereta agar kejadian serupa tidak kembali memakan korban jiwa.

“Soal siapa yang salah, kita serahkan kepada polisi. Tapi titik lemahnya di mana, itu yang harus diperbaiki,” pungkasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya